Rutan Ambon Bidik Produksi Telur Ayam Kampung, Meta Putra Siapkan Program Unggulan

Ambon, Salawaku– Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas IIA Ambon mulai membidik pengembangan usaha peternakan ayam petelur sebagai salah satu program unggulan pembinaan kemandirian warga binaan. Program ini diharapkan mampu meningkatkan keterampilan, membuka peluang usaha produktif, sekaligus menjawab kebutuhan pasar terhadap telur ayam kampung di Kota Ambon.

Kepala Rutan Kelas IIA Ambon, Meta Putra, mengatakan gagasan pengembangan peternakan ayam petelur muncul setelah dirinya mengamati kebutuhan masyarakat terhadap telur ayam kampung yang dinilai memiliki peluang pasar untuk dikembangkan.

Menurut Meta, Rutan Ambon tidak hanya berfokus pada pembinaan kepribadian, tetapi juga berupaya menciptakan program kemandirian yang memiliki nilai ekonomi dan dapat menjadi bekal bagi warga binaan setelah menyelesaikan masa pidana.

“Ketika saya berada di Ambon dan berkeliling ke pasar, saya melihat peluang untuk mengembangkan produksi telur ayam kampung. Dari situ muncul ide bagaimana kalau kita bisa memproduksinya sendiri dan ikut memenuhi kebutuhan masyarakat,” ungkap Meta saat memaparkan program pembinaan di Rutan Kelas IIA Ambon, Selasa (27/10/2026).

Ia berharap, melalui perencanaan dan pengembangan yang matang, program tersebut dapat menjadikan Rutan Ambon sebagai salah satu unit pemasyarakatan yang produktif di sektor peternakan.

“Kita ingin membangun citra bahwa Rutan Ambon juga bisa menghasilkan sesuatu yang bermanfaat bagi masyarakat. Harapannya, suatu saat orang mengenal Rutan Ambon sebagai penghasil telur ayam kampung,” ujarnya.

Meta menegaskan, keberhasilan program tersebut membutuhkan dukungan dan kerja sama dari seluruh jajaran agar dapat direalisasikan secara berkelanjutan.

Kembangkan Budidaya Lele dan Pertanian

Selain membidik produksi telur ayam kampung, Rutan Ambon juga mengembangkan program pembinaan kemandirian melalui budidaya ikan lele dan pertanian.

Pada sektor perikanan, warga binaan dilibatkan dalam pembuatan kolam, penebaran benih, pemberian pakan, hingga pemeliharaan ikan.

Meta menjelaskan, penebaran awal direncanakan mencapai 2.000 benih ikan lele, dari target keseluruhan sebanyak 7.000 ekor. Sementara 5.000 ekor lainnya direncanakan melalui kerja sama dengan masyarakat yang memiliki lokasi kolam.

Program ini diharapkan memberikan keterampilan praktis kepada warga binaan dalam mengelola usaha perikanan, sekaligus membuka peluang ekonomi setelah mereka kembali ke masyarakat.

Di bidang pertanian, Rutan Ambon memanfaatkan lahan yang tersedia untuk menanam berbagai jenis sayuran, termasuk pakcoy dan kangkung melalui sistem hidroponik maupun penanaman konvensional.

Kegiatan tersebut meliputi pengolahan lahan, penanaman bibit, penyiraman, pemupukan, dan perawatan tanaman.

Warga Binaan Diberdayakan Membuat Sofa

Program kemandirian lainnya dikembangkan melalui keterampilan pembuatan sofa. Warga binaan yang memiliki kemampuan di bidang tersebut diberdayakan untuk mengerjakan pesanan masyarakat.

Proses pengerjaan meliputi pemotongan bahan, pembuatan rangka, pemasangan busa, hingga pelapisan sofa.

Meta mengungkapkan, program ini mulai menunjukkan hasil dengan adanya pesanan yang telah dikerjakan warga binaan.

“Kita sudah menerima pesanan dan menyelesaikan dua sofa. Warga binaan yang memiliki keterampilan di bidang ini kita berdayakan agar kemampuan mereka bisa menghasilkan sesuatu yang bernilai ekonomi,” jelasnya.

Menurutnya, keterlibatan warga binaan dalam kegiatan produktif merupakan bagian dari upaya mempersiapkan mereka agar memiliki kemampuan yang dapat dimanfaatkan setelah menjalani masa pembinaan.

Perkuat Kesehatan dan Pembinaan Kepribadian

Di samping pembinaan kemandirian, Rutan Ambon juga memberikan perhatian terhadap pelayanan kesehatan warga binaan, termasuk melalui kegiatan posyandu bagi warga binaan lanjut usia.

Pelayanan kesehatan mencakup pemeriksaan kondisi fisik, pemantauan keluhan penyakit, pemberian obat sesuai indikasi medis, serta edukasi mengenai kebersihan diri dan lingkungan.

Rutan Ambon juga merencanakan pelayanan kesehatan secara langsung dengan melibatkan dokter dan perawat untuk memantau kondisi warga binaan dari kamar ke kamar.

Pada aspek pembinaan kepribadian, Rutan Ambon menjalin kerja sama dengan Kementerian Agama untuk memberikan pembinaan rohani kepada warga binaan beragama Islam dan Kristen.

Kegiatan olahraga dan senam bersama turut dilaksanakan untuk menjaga kebugaran serta mengurangi kejenuhan warga binaan selama menjalani masa pembinaan.

Meta menegaskan, seluruh program tersebut dijalankan dengan mengedepankan pendekatan humanis dan komunikasi yang baik antara petugas dan warga binaan.

“Kami ingin membangun kedekatan emosional dengan warga binaan. Mereka harus merasa nyaman menyampaikan apa yang dirasakan. Pembinaan tetap dilakukan secara humanis dengan memanusiakan manusia,” tegasnya.

Melalui berbagai program tersebut, Rutan Kelas IIA Ambon berharap pembinaan tidak hanya berorientasi pada perubahan perilaku, tetapi juga memberikan keterampilan nyata yang dapat mendukung kemandirian warga binaan ketika kembali ke tengah masyarakat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *