Panen 120 Kg Tomat, Warga Binaan Lapas Wahai Pasok Pasar hingga Kota Sorong

Wahai, Salawaku – Warga Binaan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas III Wahai panen 120 kilogram tomat dari program pembinaan kemandirian di bidang pertanian, Kamis (2/7).

Hasil panen tersebut tidak hanya dipasarkan di wilayah Wahai, tetapi juga didistribusikan hingga Kota Sorong, Papua Barat Daya.

Tomat dipanen dari kebun produktif yang dikelola Warga Binaan bersama petugas pembinaan di dalam dan luar area Lapas. Setelah dipanen, hasilnya dikemas dan dikirim melalui jalur laut untuk penuhi permintaan pasar di Sorong.

Kepala Subseksi Pembinaan Lapas Wahai, La Joi, mengatakan keberhasilan memasarkan hasil panen hingga luar daerah merupakan hasil pembinaan yang dilakukan secara berkelanjutan, mulai dari teknik budidaya hingga pengendalian mutu hasil panen.

“Kami tidak hanya mengajarkan cara menanam, tetapi juga bagaimana menjaga kualitas hasil panen agar mampu bersaing di pasar. Keberhasilan mengirim tomat hasil karya warga binaan hingga ke Kota Sorong menjadi kebanggaan sekaligus motivasi untuk terus meningkatkan kualitas pembinaan,” ujarnya.

Kepala Lapas Wahai, Tersih Victor Noya, mengatakan hasil panen tersebut menunjukkan bahwa program pembinaan kemandirian mampu menghasilkan produk yang memiliki nilai ekonomi sekaligus mendukung program ketahanan pangan.

“Puji Tuhan, hasil panen 120 kilogram tomat ini bukan sekadar pencapaian produksi, tetapi juga membuktikan bahwa Warga Binaan mampu menghasilkan produk yang berkualitas dan bernilai ekonomi. Distribusi hingga ke Kota Sorong menunjukkan hasil pertanian mereka dapat bersaing di pasar regional,” kata Tersih.

Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Maluku, Ricky Dwi Biantoro, mengapresiasi keberhasilan Lapas Wahai mengembangkan program pembinaan yang berdampak nyata.

“Saya mengapresiasi upaya Lapas Wahai dalam mengembangkan pembinaan kemandirian melalui sektor pertanian. Keberhasilan memasarkan hasil panen hingga luar daerah menunjukkan bahwa pembinaan tidak hanya membekali Warga Binaan dengan keterampilan, tetapi juga menghasilkan produk yang memberikan manfaat ekonomi,” tegas Ricky.

Hasil pemasaran tomat tersebut turut memberikan kontribusi terhadap Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP). Warga Binaan yang terlibat juga memperoleh premi atas hasil kerja mereka sebagai bentuk apresiasi sekaligus bekal selama mengikuti program pembinaan.

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *