Rutan Ambon Tebar Ribuan Bibit Lele dan Pengembangan Telur Ayam, Bidik Kemandirian Ekonomi Warga Binaan
Ambon, Salawaku – Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas IIA Ambon terus mengembangkan program pembinaan kemandirian bagi warga binaan melalui budidaya perikanan dan pertanian. Salah satunya dengan menaburkan ribuan bibit ikan lele sebagai langkah awal pengembangan usaha perikanan di lingkungan rutan.
Program tersebut tidak sekadar menjadi kegiatan seremonial, tetapi diarahkan untuk membekali warga binaan dengan keterampilan produktif yang dapat dikembangkan sebagai peluang usaha setelah mereka kembali ke tengah masyarakat.
Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan (Ditjenpas) Maluku, Ricky Dwi Biantoro, mengapresiasi berbagai inovasi pembinaan yang dilakukan Kepala Rutan Kelas IIA Ambon, Meta Putra, bersama jajarannya.
Menurut Ricky, program budidaya ikan lele, pengembangan ayam petelur, hingga pemanfaatan lahan untuk tanaman pangan merupakan langkah positif dalam membangun kemandirian di lingkungan pemasyarakatan.
Ia menegaskan, keberhasilan program pembinaan tidak cukup diukur dari pelaksanaan kegiatan, tetapi harus terlihat dari hasil dan manfaat yang dirasakan warga binaan.
“Kemandirian harus dilaksanakan secara nyata, terukur, dan berkelanjutan. Kita tidak boleh berhenti pada kegiatan seremonial atau sekadar memenuhi agenda program kerja,” tegas Ricky.
Ia menjelaskan, setiap kegiatan pembinaan harus memiliki tujuan yang jelas, baik dari sisi proses maupun hasil yang dapat dirasakan manfaatnya.
Budidaya ikan lele dan ayam petelur, misalnya, memiliki nilai ekonomi sekaligus peluang pasar yang dapat dikembangkan apabila dikelola secara serius.
Ricky juga mengapresiasi langkah Rutan Ambon yang membuka peluang kerja sama dengan masyarakat sekitar dalam pengembangan budidaya ikan lele.
Menurutnya, pendekatan tersebut menunjukkan bahwa program pemasyarakatan tidak hanya berorientasi pada kebutuhan internal, tetapi juga dapat memberikan manfaat ekonomi bagi lingkungan sekitar.
“Biasanya unit pelaksana teknis hanya berfokus pada kegiatannya sendiri. Namun, Rutan Ambon mau berbagi dengan masyarakat sekitar. Ini sesuatu yang sangat baik,” ujarnya.
Ricky berharap, program tersebut dapat menjadi contoh bagi unit pelaksana teknis pemasyarakatan lainnya di Maluku.
Ia juga mendorong agar hasil budidaya dan produk keterampilan warga binaan dipasarkan secara lebih luas sehingga memiliki nilai ekonomi dan mampu menopang keberlanjutan program pembinaan.
Menurutnya, keterampilan yang diberikan kepada warga binaan harus mencakup seluruh proses produksi, mulai dari pemeliharaan, pengelolaan pakan, pengendalian kualitas air, pencegahan penyakit, hingga penghitungan biaya dan keuntungan.
Dengan demikian, warga binaan tidak hanya memperoleh keterampilan teknis, tetapi juga belajar disiplin, ketekunan, tanggung jawab, serta membangun jiwa kewirausahaan.
Ricky menambahkan, pihaknya juga merencanakan kerja sama dengan sejumlah instansi terkait untuk mendukung program ketahanan pangan dan pembinaan kemandirian di lingkungan pemasyarakatan.
Sejumlah mitra yang direncanakan terlibat antara lain Balai Besar Penerapan Modernisasi Pertanian Maluku, Balai Pelatihan Vokasi dan Produktivitas, Dinas Ketahanan Pangan Provinsi Maluku, Dinas Pertanian Provinsi Maluku, serta Fakultas Pertanian Universitas Pattimura.
“Harapan kita, program ini tidak berhenti setelah kegiatan dilaksanakan. Harus ada perencanaan yang baik sehingga hasilnya bisa terus dikembangkan dan memberikan manfaat,” katanya.
Rutan Ambon Kembangkan Budidaya Lele dan Ayam Petelur
Sementara itu, Kepala Rutan Kelas IIA Ambon, Meta Putra, menjelaskan bahwa budidaya ikan lele merupakan bagian dari program pembinaan kemandirian warga binaan di bidang perikanan.
Dalam pelaksanaannya, warga binaan dilibatkan mulai dari pembuatan kolam, penebaran benih, pemberian pakan, hingga pemeliharaan ikan.
Dari total rencana budidaya sebanyak 7.000 ekor ikan lele, sebanyak 2.000 bibit ditebar di kolam yang berada di lingkungan Rutan Ambon. Sementara 5.000 ekor lainnya dikembangkan melalui kerja sama dengan masyarakat yang memiliki lokasi budidaya.
Melalui skema tersebut, Rutan Ambon berupaya membangun kolaborasi yang memberikan manfaat bagi warga binaan sekaligus masyarakat sekitar.
Meta mengatakan, pihaknya juga mengembangkan sejumlah kegiatan produktif lainnya, termasuk pembuatan sofa, penanaman tanaman pangan, dan budidaya ayam petelur.
Pada bidang pembuatan sofa, warga binaan yang memiliki keterampilan dilibatkan dalam proses produksi, mulai dari pemotongan bahan dan pembuatan rangka hingga pemasangan busa serta pelapisan.
Bahkan, hasil keterampilan tersebut telah memperoleh pesanan dari pihak luar sehingga membuka peluang bagi warga binaan untuk menghasilkan produk yang memiliki nilai jual.
Di sektor pertanian, warga binaan juga dilibatkan dalam penanaman berbagai jenis tanaman pangan, termasuk pakcoy dan kangkung dengan metode hidroponik.
Bidik Peluang Pasar Telur Ayam Kampung
Meta mengungkapkan, pengembangan ayam petelur juga menjadi salah satu program yang ingin diwujudkan untuk memenuhi kebutuhan pasar.
Gagasan tersebut muncul setelah dirinya melihat peluang usaha telur ayam kampung yang dinilai masih terbuka di Ambon.
Ia berharap, apabila program tersebut berkembang dengan baik, Rutan Ambon tidak hanya menjadi tempat pembinaan, tetapi juga mampu menghasilkan produk yang dibutuhkan masyarakat.
“Kami ingin membangun citra bahwa Rutan Ambon juga bisa menjadi penghasil telur ayam kampung. Mudah-mudahan dengan dukungan dan doa semua pihak, program ini bisa berjalan sukses,” ujarnya.
Meta menegaskan, berbagai program tersebut merupakan bagian dari upaya membekali warga binaan dengan keterampilan yang dapat dimanfaatkan setelah menyelesaikan masa pidana.
Dengan keterampilan yang dimiliki, warga binaan diharapkan mampu beradaptasi, membuka peluang usaha, dan menjalani kehidupan yang lebih baik ketika kembali ke masyarakat.
Ia juga menekankan pentingnya pendekatan humanis dalam proses pembinaan. Menurutnya, petugas tidak hanya menjalankan tugas dan fungsi, tetapi juga harus membangun komunikasi yang baik agar warga binaan merasa diperhatikan dan berani menyampaikan persoalan yang dihadapi.
Selain pembinaan kemandirian, Rutan Ambon turut menjalankan program pembinaan kepribadian melalui kegiatan keagamaan, pelayanan kesehatan, kegiatan olahraga, serta bantuan sosial bagi keluarga warga binaan yang membutuhkan.
Meta berharap, sinergi dengan Kantor Wilayah Ditjenpas Maluku, pemerintah daerah, aparat penegak hukum, dan masyarakat dapat terus diperkuat untuk mendukung keberhasilan program pembinaan.
Melalui pengembangan budidaya ikan lele dan berbagai kegiatan produktif lainnya, Rutan Ambon berupaya menjadikan pembinaan sebagai proses nyata untuk membangun keterampilan, kemandirian, dan kesiapan warga binaan menghadapi kehidupan setelah bebas.

