Mubes III Henalima: Tinggalkan Ego, Siapkan Generasi Muda dan Bangun Masa Depan Negeri Lima

Ambon, Salawaku — Musyawarah Besar (Mubes) III Pengurus Besar Himpunan Keluarga Besar Hena Lima (PB HKBHL) tidak sekadar menjadi forum pergantian kepengurusan. Mubes yang berlangsung di Aula Balai Bahasa Provinsi Maluku, Ambon, Minggu (23/8/2026), menjadi momentum menyatukan langkah untuk membangun sumber daya manusia dan menyiapkan masa depan Negeri Lima.

Forum tersebut menjadi ruang evaluasi organisasi sekaligus memilih Formatur/Ketua Umum PB HKBHL periode 2026-2031.

Mubes yang berlangsung sejak pukul 09.00 hingga 18.00 WIT itu membahas sejumlah agenda penting, mulai dari pembahasan dan pengesahan AD/ART, sidang komisi, penyusunan serta pengesahan tata tertib, kriteria calon formatur/ketua umum, hingga pemilihan dan penetapan Ketua Umum terpilih.

Turut hadir anggota DPR RI daerah pemilihan Maluku, Saadiah Uluputty; Dirbimmas Polda Maluku, Kombes Pol. Hujra Soumena; Sekretaris Desa Negeri Lima, Imran Tunny; serta Sekretaris Jenderal HKBHL, Abdu Assel.

Mubes III PB HKBHL dibuka dengan pemukulan tifa oleh Saadiah Uluputty, didampingi Hujra Soumena, Imran Tunny dan Abdu Assel.

Hujra: Tinggalkan Ego, Fokus Bangun Negeri Lima

Dirbimmas Polda Maluku, Kombes Pol. Hujra Soumena, mengingatkan kepengurusan baru agar meninggalkan ego kelompok dan mengedepankan kerja bersama.

Menurut Hujra, HKBHL harus memiliki arah kerja yang jelas sehingga organisasi tidak berhenti pada kegiatan seremonial, tetapi mampu menghadirkan manfaat yang nyata bagi masyarakat Negeri Lima.

“Yang pertama itu, jangan lagi ada ego. Matahari naik, matahari masuk. Itu sudah selesai. Sekarang kita harus ke depan,” tegas Hujra.

Ia menilai Negeri Lima memiliki banyak tokoh dan potensi sumber daya alam yang dapat dikembangkan. Karena itu, pengurus baru perlu melakukan pemetaan secara serius terhadap kekurangan, peluang serta potensi sumber daya manusia yang dimiliki warga Negeri Lima.

“Sumber daya manusia dulu, baru beberapa lainnya katong atur. Katong lihat apa kekurangan yang ada di katong kampung. Apa peluang yang ada di katong kampung,” ujarnya.

Hujra juga mendorong pendataan warga asal Negeri Lima yang berada di Ambon maupun di luar daerah. Pendataan tersebut, kata dia, perlu mencakup mahasiswa, lulusan perguruan tinggi hingga warga yang memiliki keahlian dan kompetensi tertentu.

Langkah itu penting untuk mengetahui potensi SDM yang dapat dilibatkan dalam pembangunan negeri, termasuk membantu membuka akses pekerjaan bagi lulusan perguruan tinggi yang belum mendapatkan pekerjaan.

“Jadi nanti setelah kegiatan ini, kita rumuskan sesuatu yang tidak perlu banyak. Tapi betul-betul apa yang katong putuskan itu dirasakan oleh masyarakat,” katanya.

Hujra juga meminta setiap persoalan internal diselesaikan melalui ruang dialog, bukan dengan saling menjatuhkan.

“Katong semua bergandengan tangan dalam satu pemikiran untuk bisa menghasilkan solusi,” ujarnya.

Potensi Alam Jadi Modal Pembangunan

Selain SDM, Hujra mengingatkan Negeri Lima memiliki potensi alam yang dapat dikembangkan, khususnya di sektor pertanian dan pariwisata.

Ia menyebut kondisi tanah yang subur serta keberadaan danau di Negeri Lima sebagai aset yang dapat dikembangkan untuk meningkatkan aktivitas ekonomi dan menarik wisatawan.

“Kita punya tanah cukup subur. Ada danau yang bisa dimaksimalkan untuk meningkatkan wisatawan di sana,” kata Hujra.

Ia juga mengingatkan pentingnya pembinaan generasi muda. Menurutnya, perilaku sebagian warga yang berujung pada persoalan hukum dapat memberikan dampak terhadap citra Negeri Lima.

Karena itu, organisasi keluarga besar diharapkan ikut mengambil peran dalam membangun karakter dan masa depan generasi muda.

Hujra bahkan mendorong agar kepemimpinan HKBHL ke depan memberikan ruang lebih besar bagi generasi muda.

“Kalau bisa dari anak muda yang maju. Lima tahun ke depan, kalau bisa anak muda yang maju,” tegasnya.

Saadiah: Hena Lima Adalah Rumah dan Identitas

Sementara itu, Anggota DPR RI asal Maluku, Saadiah Uluputty, mengajak keluarga besar HKBHL menjadikan organisasi sebagai wadah menjaga identitas sekaligus menyiapkan generasi penerus Negeri Lima.

Hal tersebut disampaikan Saadiah dalam stadium general pada rangkaian Mubes III PB HKBHL.

Menurutnya, Negeri Lima bukan sekadar nama tempat kelahiran, melainkan rumah, akar dan identitas yang melekat pada setiap anak negeri.

“Henalima bukan sekadar nama, tetapi Henalima adalah rumah, Henalima adalah akar dan Henalima adalah identitas,” kata Saadiah.

Saadiah menyebut tiga kata kunci dalam tema Mubes, yakni persatuan, partisipasi dan visi kepemimpinan, harus diterjemahkan menjadi program kerja yang nyata.

Ia berharap kepengurusan baru tidak menjadikan Mubes sebatas agenda berkumpul, tetapi mampu menghasilkan program yang benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat, terutama dalam bidang pendidikan, pembangunan SDM, lapangan kerja dan komunikasi dengan pemerintah.

“Beta titipkan pesan, beta punya keinginan, harapan memberikan tanggung jawab kepada pengurus yang baru,” ujarnya.

Saadiah juga mendorong HKBHL membangun basis data SDM Negeri Lima. Data tersebut mencakup mahasiswa, lulusan perguruan tinggi dan warga yang memiliki kompetensi di berbagai bidang.

Menurutnya, data itu dapat menjadi kekuatan organisasi untuk mengetahui potensi yang dimiliki anak Negeri Lima sekaligus memudahkan pelibatan mereka ketika masyarakat membutuhkan tenaga ahli maupun solusi di bidang tertentu.

Pendidikan Jadi Investasi Masa Depan

Saadiah menempatkan pendidikan sebagai salah satu fondasi utama dalam membentuk generasi Negeri Lima.

Ia mengisahkan gagasan pembangunan pesantren di Negeri Lima yang pernah dibicarakan dengan sejumlah pihak. Menurutnya, pendidikan harus menjadi investasi jangka panjang agar generasi muda memiliki pengetahuan, karakter dan kepedulian terhadap kampung halaman.

Saadiah juga menyinggung program beasiswa yang telah diberikan kepada pelajar selama tiga tahun berturut-turut. Program tersebut, kata dia, perlu terus dikembangkan agar semakin banyak anak Negeri Lima memperoleh kesempatan meningkatkan pendidikan.

“Yang kita butuhkan bukan hanya pembangunan fisik. Membentuk manusia yang berkarakter, membentuk manusia, SDM yang nanti melihat Negeri Lima ini ke depan,” ujarnya.

Ia menegaskan, pembangunan infrastruktur memang penting, tetapi membangun manusia merupakan investasi yang jauh lebih panjang karena generasi itulah yang nantinya menentukan arah Negeri Lima.

Saadiah juga mengajak keluarga besar HKBHL menjadikan nilai pendidikan, keimanan, ketakwaan, akhlak mulia dan kecerdasan sebagai bagian dari visi organisasi.

Ia mengingatkan bahwa kepengurusan baru tidak hanya bertanggung jawab untuk lima tahun mendatang, tetapi juga memiliki tanggung jawab menyiapkan tongkat estafet bagi generasi berikutnya.

“Semua pasti akan pergi, semua pasti akan meninggal. Tapi siapapun pasti ingin masuk surga. Maka sebaik-baik visi masa depan adalah visi yang betul-betul direncanakan untuk masuk surga,” ujarnya.

Saadiah berharap Mubes III PB HKBHL melahirkan kepengurusan yang mampu menyatukan seluruh potensi anak Negeri Lima, meninggalkan perbedaan, memperkuat kolaborasi dan menghadirkan program yang dapat dirasakan langsung masyarakat.

“Insyaallah mudah-mudahan dari teladan Nabi Muhammad SAW dan Nabi Ibrahim AS, HKBHL mampu membawa sebuah jawaban kepada generasi-generasi yang akan datang,” pungkas Saadiah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *