Lapas Wahai Pamerkan Kerajinan Warga Binaan, Saniri Alifuru Jajaki Pengembangan UMKM

Wahai, Salawaku – Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas III Wahai mulai membuka peluang kolaborasi pengembangan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) berbasis potensi lokal bersama Saniri Alifuru. Peluang tersebut dijajaki melalui kunjungan Sekretaris Umum (Sekum) Saniri Alifuru atau Alifuru Council, Huna Matoke, ke Lapas Wahai, Senin (2/11/2026).

Kunjungan tersebut tidak hanya membahas pengembangan UMKM bagi masyarakat adat, tetapi juga menjadi kesempatan memperkenalkan berbagai produk hasil pembinaan kemandirian Warga Binaan yang memanfaatkan kekayaan alam Pulau Seram.

Dalam kesempatan itu, Huna Matoke melihat langsung sejumlah hasil kerajinan Warga Binaan, mulai dari miniatur kapal pinisi berbahan kayu khas Pulau Seram hingga kerajinan pebble art yang memanfaatkan batuan pesisir. Ia juga meninjau area hidroponik yang dikelola Warga Binaan.

Kepala Subseksi Pembinaan Lapas Wahai, La Joi, mengatakan program pembinaan kemandirian yang dijalankan pihaknya diarahkan untuk menghasilkan keterampilan produktif dengan memanfaatkan bahan baku yang tersedia di lingkungan sekitar.

Menurutnya, keterbatasan selama menjalani masa pidana bukan menjadi penghalang bagi Warga Binaan untuk terus mengembangkan kreativitas dan menghasilkan produk yang memiliki nilai ekonomi.

“Kami berupaya membekali Warga Binaan dengan keterampilan yang aplikatif. Miniatur pinisi dan pebble art ini adalah bukti nyata bahwa keterbatasan jeruji besi tidak menghalangi kreativitas untuk mengolah kekayaan alam sekitar menjadi produk bernilai ekonomi,” ujar La Joi.

Sementara itu, Huna Matoke mengapresiasi hasil kreativitas Warga Binaan Lapas Wahai. Ia menilai pemanfaatan bahan baku lokal menjadi produk bernilai jual dapat dikembangkan sebagai salah satu model pemberdayaan ekonomi masyarakat adat.

“Kreativitas yang ditunjukkan di dalam Lapas Wahai merupakan hilirisasi potensi lokal yang luar biasa. Guna membangkitkan ekonomi masyarakat adat, pola pemanfaatan bahan lokal seperti ini akan menjadi rujukan penting bagi kami dalam membangun jejaring UMKM berbasis kearifan lokal,” ungkap Huna.

Kepala Lapas Kelas III Wahai, Tersih Victor Noya, menyambut positif kunjungan tersebut. Ia berharap pertemuan dengan Saniri Alifuru dapat menjadi pintu masuk bagi terbangunnya kerja sama, khususnya dalam memperluas pemasaran produk hasil karya Warga Binaan.

Menurut Tersih, pembinaan di dalam Lapas tidak hanya berorientasi pada pemberian keterampilan, tetapi juga mempersiapkan Warga Binaan agar mampu mandiri dan produktif ketika kembali ke tengah masyarakat.

“Kehadiran Saniri Alifuru di Lapas Wahai merupakan angin segar bagi program reintegrasi sosial kami. Kami berharap kolaborasi ini tidak hanya berhenti pada kunjungan semata, tetapi dapat membuka akses pasar yang lebih luas bagi karya Warga Binaan, sekaligus mempersiapkan mereka agar siap menjadi penggerak UMKM saat kembali ke tengah masyarakat nanti,” tandasnya.

Melalui penjajakan tersebut, Lapas Wahai berharap hasil pembinaan kemandirian Warga Binaan dapat semakin dikenal dan memiliki peluang pemasaran lebih luas, sekaligus menjadi bagian dari pengembangan ekonomi kreatif berbasis potensi alam dan kearifan lokal Pulau Seram.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *