Inilah7 Aktivis dan Pejuang Kemerdekaan Asal Maluku, Keren Banget!

1291
0

7 Aktivis dan Pejuang Kemerdekaan Asal Maluku – Kata “Maluku” berasal dari bahasa Arab Al Mulk atau Al Malik yang berarti Tanah Raja-Raja. mengingat pada masa itu banyaknya kerajaan.

Maluku merupakan salah satu Provinsi tertua dalam sejarah lahirnya Indonesia, Maluku dikenal dengan Provinsi Kepulauan karena terdapat 1.430 Pulau dan masing-masing pulau memiliki keanekaragaman sosial budaya dan kekayaan alam yang berlimpah.

7 Aktivis dan Pejuang Kemerdekaan Asal Maluku

Seperti Daerah lain di Indonesa, Maluku juga memiliki perjalanan sejarah yang panjang dan tidak dapat dilepaskan dari sejarah Indonesia secara keseluruhan. Dibawah ini merupakan daftar Aktivis dan Pejuang Kemerdekaan Asal Maluku pada masa perjuangan Indonesia yang secara keturunan (genetis) berdarah Maluku.

1. A.M. Sangaji, Pejuang Perintis Kemerdekaan

Abdoel Moethalib Sangaji (A.M Sangaji)

Abdoel Moethalib Sangaji (A.M Sangaji) lahir di Pulau Haruku tepatnya di Negeri Rohomoni yang masyarakatnya dikenal menjunjung tinggi adat dan agama, berasal dari keluarga Sangadji Hatuhaha. Sangadji sendiri merupakan gelar untuk wakil Kesultanan Ternate pada masanya di Pulau Haruku(Nusa Hatuhaha).

Memulai mengenyam pendidikan dasar pada Sekolah Belanda HIS dan dilanjutkan dengan pendidikan menengah MULO. Abdoel Moethalib yang tidak sempat melanjutkan studi ke jenjang lebih tinggi kemudian memilih terjun dalam dunia politik.

Dalam ingatan kolektif bangsa tentu seorang A.M Sangadji mempunyai refleksi sejarah perjuangan yang begitu luar biasa dalam merumuskan Ikhtiar berbangsa dan bernegara sebagai identitas keindonesiaan yang bertajuk pahlawan Nasional apa yang telah diperjuangkan A.M Sangadji untuk membela dan mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia kiranya dapat menggugah semangat juang semua elemen bangsa Indonesia terutama generasi muda untuk bersatu padu menyatukan langkah membangun negeri sebagaimana yang dicita-citakan A.M Sangadji dan para pendahulu negeri hingga kita mampu berdikari dan berdiri sejajar dengan negara-negara lain di dunia dan melanjutkan ikhtiar perjuangan bangsa Indonesia akan mendatang

2. Johannes Latuharhary


Johannes Latuharhary

Mr. Johannes “Nani” Latuharhary (lahir di Ulath, Saparua, Maluku Tengah, Maluku, 6 Juli 1900 – meninggal di Jakarta, Indonesia, 8 November 1959 pada umur 59 tahun) adalah seorang perintis kemerdekaan Indonesia.

Beliau ini adalah keturunan keluarga besar fam atau marga Latuharhary dari negeri Haruku namun lahir dan besat di Ullath. Beliau mempunyai seorang istri yang bermana Henriette Carolina “Yet” Pattiradjawane seorang anak Raja negeri Kariuw Jacob Pattiradjawane, dan dari pernikahannya mereka dikaruniai 7 orang putra-putri. Putri sulungnya, Henriette Josephine atau Mans, menikah dengan negarawan Indonesia asal Maluku yaitu Josef Muskita.

Johannes Latuharhary adalah putra daerah Maluku pertama yang meraih gelar Meester in de Rechten di Universitas Leiden. Sepulangnya dari Belanda ia bekerja menjadi pegawai pada ketua pengadilan tinggi di Surabaya pada Desember 1927 – Maret 1929.

Ia aktif dalam Sarekat Ambon dan pergerakan Nasional dan banyak membwa ide dan persepektif baru dari Eropa. Ia juga menjadi pemimpin umum media Sarekat Ambon “Haloean”.

Ia diangkat menjadi Hakim di Surabaya, lalu menjadi Ketua Pengadilan Negeri di Jawa Timur selama 2 tahun, lalu ia memutuskan berhenti supaya dapat lebih aktif dalam organisasi pergerakan.

Lalu ia diangkat menjadi Dewan Perwakilan Kabupaten Jawa Timur, kemudian ia pindah ke Malang dan menjadi anggota Dewan Perwakilan Propinsi Jawa Timur di Surabaya. Ia juga mengetuai Fraksi Nasional sampai Jepang masuk ke Indonesia.

3. Kapitan Paulus Tiahahu

Kapitan Paulus Tiahahu (wafat di Nusalaut, 17 November 1817) adalah seorang kapitan perang dari Negeri Abubu di Pulau Nusalaut yang turut dalam perang Pattimura tahun 1817. Paulus dan Anthony Reebok ditugaskan Pattimura untuk mengatur pertahanan di Nusalaut.

Bersama-sama dengan pasukan rakyat ia merebut benteng Beverwijk di Negeri Sila Leinitu. Pasukan Belanda di benteng tersebut disergap dan dibunuh. Para pejuang dari Nusalaut mengambil bagian pula dalam pertempuran-pertempuran di Saparua, Haruku dan Jazirah Hatawano di Pulau Saparua. Paulus Tiahahu beserta raja-raja dan pati di Pulau Nusalaut ikut menandatangani Proklamasi Haria di Baileu Haria tanggal 28 Mei 1817.

Paulus mempunyai seorang putri yang bernama Martha Christina. Putrinya selalu mendampingi dirinya dalam medan-medan pertempuran. Semangat tempur srikandi Nusalaut yang masih remaja ini selalu mengobarkan semangat pasukan Pattimur

4. Martha Christina Tiahahu

Martha Christina Tiahahu

Martha Christina Tiahahu (lahir di Nusa Laut, Maluku, 4 Januari 1800 – meninggal di Laut Banda, Maluku, 2 Januari 1818 pada umur 17 tahun) adalah seorang gadis dari Desa Abubu di Pulau Nusalaut. Lahir sekitar tahun 1800 dan pada waktu mengangkat senjata melawan penjajah Belanda berumur 17 tahun. Ayahnya adalah Kapitan Paulus Tiahahu, seorang kapitan dari negeri Abubu yang juga pembantu Thomas Matulessy dalam perang Pattimura tahun 1817 melawan Belanda.

Martha Christina tercatat sebagai seorang pejuang kemerdekaan yang unik yaitu seorang puteri remaja yang langsung terjun dalam medan pertempuran melawan tentara kolonial Belanda dalam perang Pattimura tahun 1817. Di kalangan para pejuang dan masyarakat sampai di kalangan musuh, ia dikenal sebagai gadis pemberani dan konsekwen terhadap cita-cita perjuangannya.

5. Alexander Yacob Patty (AY. Patti)

Alexander Yacob Patty (AY. Patti)

Alexander Yacob Patty, itulah nama  orang yang dimakamkan di salah satu makam tersebut, yang dikenal sebagai pejuang dan perintis kemerdekaan Republik Indonesia asal Maluku.

Nama AY Patty memang terdengar  asing bagi sebagian masyarakat terutama, warga Kota Bandung. Namun di Maluku, namanya diabadikan sebagai nama salah satu ruas jalan nasional.

AY Patty lahir pada  12 Desember 1889 di Desa Nolloth, Pulau Saparua, Kabupaten Maluku. Kelahirannya  sering diperdebatkan, sebab menurut beberapa literatur dia lahir pada 15 Agustus 1901 dan meninggal di Bandung pada 16 januari 1953.

“Tanggal pasti kelahiran beliau berdasarkan ahli waris itu tanggal 12 Desember 1889, bukan 15 Agustus 1901,” ujar Kepala Dinas Sosial Provinsi Maluku Sartono Pinning di Bandung, Rabu.

Perjuangan AY Patty dalam upaya memerdekakan Indonesia dari tangan kolonial Belanda telah menumbuhkan semangat ke-daerahan sebagai modal sosial dalam rangka lahirnya rasa nasionalisme dan patriotisme untuk kemerdekaan bangsa.

Daftar 7 Aktivis dan Pejuang Kemerdekaan Asal Maluku yang dinamis diatas akan selalu mengalami perubahan dari waktu ke waktu sesuai perkembangan keadaan lebih lanjut.

Jika melihat memiliki referensi lain yang semestinya masuk ke dalam daftar tokoh-tokoh Maluku, silakan sunting halaman ini dan masukkan nama tokoh tersebut berikut keterangan, referensi dan pranalanya.