Menggugat Dongeng Hilirisasi: Berapa Lama Lagi Perut Rakyat Kecil Harus Kenyang dengan Janji?
Oleh: KUBA BOINAUW / KETUA AMPEl MALUKU ( Aliansi Masyarakat Peduli Lingkungan )
Sagu adalah darah daging kita. Sagu adalah napas kehidupan yang menghidupi anak-cucu kita di tanah Ita Wotu Nusa. Di bawah pohon-pohon sagu, para leluhur menitipkan harapan agar generasi hari ini tidak kelaparan di atas tanahnya yang kaya.
Namun apa yang terjadi hari ini? Simbol harga diri kita itu kini sedang digadaikan menjadi jualan politik yang murah!
Beberapa waktu lalu, dengan dada membusung, penguasa mencanangkan program mentereng bernama “Hilirisasi Sagu”. Kedengarannya hebat, seolah-olah besok pagi nasib petani sagu akan langsung berubah. Namun faktanya? Kosong. Nol besar. Hilirisasi itu sampai detik ini hanyalah barang gaib yang sengaja ditiupkan untuk menabok kesadaran kita agar tetap terlelap dalam mimpi.
Saat para petani sagu memeras keringat di dalam hutan, berteman nyamuk dan lumpur demi sesuap nasi, para pejabat di kabupaten ini justru asyik duduk di dalam ruangan mewah yang dingin. Mereka menggelar Focus Group Discussion (FGD). Mereka mengundang orang-orang hebat dari kementerian, dinas provinsi, hingga akademisi kampus ternama.
Mereka tersenyum, berfoto bersama, lalu dengan tanpa beban keluar ke media dan berkata: “Diskusi ini fokus untuk persiapan dokumen pembangunan Sentra IKM Sagu pada tahun 2027 nanti.”
Apakah mereka mengira lambung anak-anak petani sagu bisa diajak kompromi untuk menunda lapar sampai tahun 2027? Apakah mereka pikir biaya sekolah, harga beras, dan himpitan ekonomi rakyat kecil bisa dibayar pakai tumpukan “dokumen persyaratan” yang mereka diskusikan itu?
Ini adalah penghinaan terhadap akal sehat rakyat! Mengapa untuk urusan perut rakyat yang mendesak, birokrasi kita bergerak selambat siput? Mengapa untuk urusan perut penguasa, semua bisa selesai dalam semalam? FGD demi FGD itu tak lebih dari panggung sandiwara komedi yang anggarannya habis untuk makan enak dan sewa ruangan, sementara rakyat di kampung-kampung tetap memeras sagu dengan alat seadanya, gigit jari, dan terus dieksploitasi oleh tengkulak!
Bangkit, Lawan Dongeng Penguasa!
Hilirisasi sejati tidak butuh waktu bertahun-tahun hanya untuk menyusun kertas! Jika penguasa punya kemauan politik yang tulus, teknologi itu sudah turun ke desa-desa sejak bertahun-tahun lalu. Pabrik-pabrik pengolahan sudah berdiri, dan harga sagu sudah makmur di tangan petani.
Jangan mau lagi dininabobokan oleh istilah-istilah keren bin asing seperti “FGD” atau “Sentra IKM”. Itu semua adalah bahasa langit yang sengaja dipakai untuk mengubur ketidakmampuan mereka dalam bekerja nyata di bumi! Jangan-jangan, target tahun 2027 itu hanyalah taktik busuk untuk mengulur waktu, melempar tanggung jawab, atau bahkan dijadikan modal kampanye berikutnya?
Sampai kapan kita mau jadi penonton yang sabar di atas tanah kelahiran kita sendiri? Sampai kapan kita mau terus-menerus disuapi janji manis yang busuk di dalamnya?
Sagu kita adalah emas hijau yang harusnya memakmurkan dapur kita, bukan memakmurkan karier politik para pejabat! Jangan biarkan air mata para petani sagu mengering tanpa keadilan.
Mari kita rapatkan barisan. Buka mata, tajamkan telinga, dan angkat suara! Tagih realisasi, tolak segala bentuk penundaan berkedok administrasi. Jika hari ini mereka tidak bisa memberi bukti, maka haram hukumnya bagi kita untuk percaya lagi pada narasi-narasi kosong di masa depan. Kuliti kebohongan mereka, tuntut hak kita sekarang juga—karena kemakmuran adalah hak rakyat hari ini, bukan hadiah dinasti di tahun 2027!


