Wahai, Salawaku – Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas III Wahai menunjukkan komitmennya dalam mendukung program prioritas nasional, yaitu Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Guna memastikan kelancaran program tersebut, pihak Lapas Wahai telah memulai proses pengukuran lahan diluar Lapas untuk pembangunan atau penyesuaian fasilitas dapur yang memenuhi standar kesehatan dan higienis, Jumat (9/1/2026)
Kepala Lapas Wahai, Tersih Victor Noya, menjelaskan bahwa inisiatif ini merupakan tindak lanjut dari arahan Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan (Kemenimipas) dalam 15 Program Aksi Tahun 2026 yang menargetkan pembangunan 200 dapur sehat di Lapas dan Rutan seluruh Indonesia untuk menyokong program MBG. “Pengukuran lahan ini adalah langkah awal yang krusial untuk memastikan infrastruktur dapur kita memenuhi standar yang ditetapkan oleh Badan Gizi Nasional. Kami ingin memastikan bahwa Lapas Wahai siap jika ditunjuk sebagai salah satu Unit Pelaksana Teknis Pemasyarakatan yang memproduksi makanan bergizi, tidak hanya untuk Warga Binaan internal, tetapi juga untuk masyarakat sekitar,” ungkapnya.
Tak lupa, Tersih menyampaikan terima kasih kepada pemilik lahan yang berlokasi di depan Lapas, Haji Abdul Hamid Maba, yang bersedia meminjampakaikan lahan kosong miliknya untuk rencana pembangunan dapur MBG. “Kami sangat berterima kasih kepada Pak Haji yang dengan sukarela mau meminjamkan lahan bagi rencana pembangunan dapur MBG,” tambah Tersih.
Senada, Hamid juga menyatakan dukungannya bagi pihak Lapas. “Tentunya kami berharap pondasi kosong bekas bangunan yang berukuran 7×16 meter ini dapat berguna untuk program MBG bagi anak-anak sekolah apabila dikelola Lapas Wahai. Semoga kolaborasi ini mendapatkan ridho dari Allah SWT,” harapnya.
Program MBG dicanangkan sebagai upaya pemerintah untuk meningkatkan asupan gizi masyarakat, termasuk di lingkungan pemasyarakatan. Lapas yang terlibat dalam program ini diwajibkan memiliki dapur yang laik higiene sanitasi, dioperasikan oleh Warga Binaan yang telah mendapatkan pelatihan dan sertifikasi dalam penyelenggaraan makanan.
Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Maluku, Ricky Dwi Biantoro, turut memberikan apresiasinya. “Benar, Lapas Wahai adalah salah satu dari tiga Lapas di Maluku yang kemarin baru saja mengikuti rapat virtual dengan Direktorat Jenderal Pemasyarakatan terkait persiapan pelaksanaan MBG di Lapas/Rutan. Kami apresiasi gerakan cepat dari Lapas Wahai,” puji Ricky.
Sebelumnya, Lapas Wahai juga dikenal aktif dalam program ketahanan pangan nasional dengan memanfaatkan lahan terbatas untuk bercocok tanam sayuran, yang hasilnya turut dinikmati oleh Warga Binaan bahkan masyarakat sekitar. Sinergi antara program ketahanan pangan dan penyediaan dapur sehat MBG ini diharapkan dapat menciptakan kemandirian pangan di dalam Lapas sekaligus memberikan keterampilan baru bagi Warga Binaan sebagai bekal saat kembali ke masyarakat.
Dengan persiapan awal ini, Lapas Wahai optimis dapat berkontribusi maksimal dalam memastikan setiap porsi makanan yang dihasilkan memenuhi standar mutu dan gizi yang dipersyaratkan, serta turut menyukseskan program nasional MBG sebagai langkah strategi membangun Indonesia Emas 2045.






