Guru Besar Geologi : Diapit 3 Lempeng Tektonik, Ambon Terancam Gempa 8 SR

- Editorial Team

Sabtu, 2 Oktober 2021 - 09:36 WIT

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pakar Geologi: Ambon akan Dilanda Tsunami Seperti Tahun 2004 di Aceh

i

Pakar Geologi: Ambon akan Dilanda Tsunami Seperti Tahun 2004 di Aceh

Guru Besar Geologi : Diapit 3 Lempeng Tektonik Ambon Terancam Gempa 8 SR – Kalau topan Haiyan menghancurkan Philipina karena badai tropis, maka pulau Ambon dan pulau-pulau di sekitarnya diancam oleh badai gempa. Tsunami diprediksi kuat bakal melanda, skalanya sama dengan Banda Aceh, akibat siklus tektonis yang terjadi sekali dalam beberapa ratus tahun.

Ambon Bahaya sekali, akan ada next Banda Aceh (Banda Aceh berikutnya) saya yakin itu,” ujar pakar gempa, Prof Ron Harris dari Brigham Young University, Utah, Amerika Serikat .

Guru besar geologi yang meneliti gempa berdasarkan data geologi dan arkeologis itu menyatakan, Ambon dan pulau-pulau sekitarnya terancam gempa di atas 8 skala richter, karena adanya akumulasi energi di pertemuan tiga lempeng kulit bumi.

Akumulasi akibat gerakan lempeng Pasifik mendorong lempeng Eurasia. Kecuali lempeng Indo-Australia yang cenderung pasif, aksi dorong kedua lempeng berakibat terkumpulnya energi yang siap terlepas dan menimbulkan gempa dahsyat.

Gerakan lempeng Pasifik yang menekan Eurasia berlangsung setiap hari. Itulah sebabnya, gempa kecil intens terjadi setiap hari beberapa kali, meski tidak dirasakan, kecuali dengan seismograf, alat pengukur gempa.

Ron Harris lah yang meramalkan terjadinya gempa di Sumatera, yang akhirnya terjadi di Banda Aceh tahun 2004. Dalam risetnya tentang patahan Sumatera, dia mengingatkan dalam papernya yang terbit tahun 1997. “Akan ada bencana besar di Sumatera karena adanya patahan aktif,” sebutnya pada jurnal ilmiahnya itu. “Dan begitulah yang terjadi,” imbuhnya saat diwawancarai di Desa Galala, Kota Ambon.

Baca juga :  MA Menangkan Putuskan Mustamu Pemilik Sah Tanah Di Wainitu , Kapolda Maluku Di Minta Tindak Oknum Anggotanya

Kemarin, Ron Harris dan dua ahli geologi lainnya Rachel dan Nicole masing-masing dari Amerika dan Australia mengakhiri penelitiannya di Maluku. Mereka melakukan penggalian di pemukiman penduduk di pesisir pantai Galala untuk menghimpun data geologi dan arkeologi terkait “Air Turun Naik Galala” yang terjadi tahun 1952 silam.

Dari catatan sejarah gempa, yang diperoleh di Belanda, Ron Harris dan tim terkejut kalau Maluku pernah diserang oleh badai gempa di masa lalu. Tercatat sebanyak 23 gempa besar diantaranya banyak menimbulkan tsunami. Terjadi dalam kurun waktu antara tahun 1600-1800. Dia memprediksi badai tersebut akan kembali terulang, sesuai siklusnya.

Kecuali gempa Galala tahun 1950 yang dinilai relatif misterius, karena hanya melanda desa itu, gempa besar terakhir dengan gelombang tsunami menghantam pulau Ambon terjadi tahun 1852, yang mana air naik setinggi 14,5 meter. Seluruh bangunan di Kota Ambon rata bersama tanah, dari pantai hingga kawasan Batugajah Atas, lokasi Makorem 151/Binaya saat ini. Jika terakhir melanda Ambon tahun 1852, maka sesuai siklus 150 tahun sekali, maka sekarang ini, pulau Ambon dan sekitarnya sudah berada di dalam siklus tersebut.

Baca juga :  MA Menangkan Putuskan Mustamu Pemilik Sah Tanah Di Wainitu , Kapolda Maluku Di Minta Tindak Oknum Anggotanya

Ron Harris menyatakan, korban akibat tsunami harus dicegah. Seperti di Aceh, meski risetnya sudah terbit beberapa tahun sebelum itu terjadi, tapi akuinya tak berguna. Banyak orang mati, karena ketidaktahuan informasi atau awam soal tsunami.

Dia menyatakan penyesalannya terhadap banyaknya korban yang mestinya bisa dikurangi itu. Yang dia katakan sebagai akibat kurang gencarnya dia mensosialisasikan hal ini kepada masyarakat di Sumatera. Ron Harris pun mengatakan, dia tidak ingin hal yang sama terulang di Maluku. “Saya boleh gagal di Aceh, tapi saya tidak boleh gagal di Maluku,” ujarnya.

Sementara itu, pihak Badan Penanggulangan Bencana Daerah Provinsi Maluku tengah merancang sebuah program guna menekan resiko gempa maupun tsunami. Berdasarkan predikis Ron Harris dan tim Kepala BPBD Maluku Farida Salampessy menghimbau masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan.

Menurut dia, apa yang disampaikan guru besar dari Brigham Young University, Utah, Amerika Serikat berdasarkan riset mendalam yang telah dia lakukan. “Hanya saja kita tidak bisa tentukan kapan terjadi, tapi sebagai manusia biasa kita mesti bersiap-siap,” ujarnya di sela-sela sosialisasi yang disampaikan Ron Harris dan timnya di Aula UKIM Ambon. ( Ambon Ekspres).

Berita Terkait

MA Menangkan Putuskan Mustamu Pemilik Sah Tanah Di Wainitu , Kapolda Maluku Di Minta Tindak Oknum Anggotanya
Kabid Pelayanan dan Pembinaan Kanwil Ditjenpas Maluku Pimpin Sidang TPP Perdana
Awal Tahun, Lapas Saparua Periksa Kesehatan Warga Binaan
Kapolsek Salahutu Hadiri Launching SPPG di Negeri Suli
Komitmen Bersinar, Warga Binaan Lapas Namlea Periksa Urine
Warga Binaan Lapas Tual Jalani Pemeriksaan Urine Mendadak
Ibadah Kunci Usbu, Doa dan Firman Meneguhkan Warga Binaan
LPKA Ambon Dorong Literasi Digital Anak Binaan melalui Pengenalan Informatika
Berita ini 50 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 13 Januari 2026 - 17:49 WIT

MA Menangkan Putuskan Mustamu Pemilik Sah Tanah Di Wainitu , Kapolda Maluku Di Minta Tindak Oknum Anggotanya

Minggu, 11 Januari 2026 - 08:39 WIT

Kabid Pelayanan dan Pembinaan Kanwil Ditjenpas Maluku Pimpin Sidang TPP Perdana

Minggu, 11 Januari 2026 - 07:33 WIT

Awal Tahun, Lapas Saparua Periksa Kesehatan Warga Binaan

Sabtu, 10 Januari 2026 - 20:38 WIT

Kapolsek Salahutu Hadiri Launching SPPG di Negeri Suli

Sabtu, 10 Januari 2026 - 19:39 WIT

Komitmen Bersinar, Warga Binaan Lapas Namlea Periksa Urine

Berita Terbaru

Daerah

Awal Tahun, Lapas Saparua Periksa Kesehatan Warga Binaan

Minggu, 11 Jan 2026 - 07:33 WIT

Daerah

Kapolsek Salahutu Hadiri Launching SPPG di Negeri Suli

Sabtu, 10 Jan 2026 - 20:38 WIT

Daerah

Komitmen Bersinar, Warga Binaan Lapas Namlea Periksa Urine

Sabtu, 10 Jan 2026 - 19:39 WIT