Manfaatkan Limbah Pembuatan Meubelair: Inovasi Ramah Lingkungan di Industri Pintu Kayu dan Trali Besi

Ambon, Salawaku– Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Maluku melalui Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas IIA Ambon, Dalam upaya mendukung pembinaan berbasis keterampilan sekaligus menjaga kelestarian lingkungan, Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas IIA Ambon meluncurkan program inovatif pemanfaatan limbah dari kegiatan pembuatan meubelair.

Limbah berupa potongan kayu dan sisa pengelasan besi kini diolah menjadi produk baru yang bermanfaat, seperti pintu kayu, rak penyimpanan, serta trali besi.
Kegiatan ini merupakan bagian dari program kerja kemandirian warga binaan yang difokuskan pada pelatihan pertukangan dan pengelasan. Tidak hanya memberikan keterampilan teknis, program ini juga mengajarkan pentingnya prinsip daur ulang dan efisiensi bahan.
Kepala Rutan Ambon, Ferdika Canra, menjelaskan bahwa limbah yang sebelumnya dianggap tak berguna kini disulap menjadi barang bernilai guna dan ekonomis.
“Melalui inovasi ini, kami ingin menunjukkan bahwa pembinaan warga binaan bisa selaras dengan kepedulian terhadap lingkungan. Limbah kayu dan besi tidak kami buang begitu saja, tetapi kami olah kembali menjadi produk baru yang berguna,” jelas Ferdika.
Proses pemanfaatan limbah ini melibatkan warga binaan secara langsung mulai dari tahap pemilahan bahan, perencanaan desain, proses produksi, hingga finishing. Para peserta dilatih oleh pembimbing kerja dan teknisi profesional untuk memastikan produk yang dihasilkan memiliki standar kualitas yang baik.


Salah satu warga binaan yang tergabung dalam kegiatan ini mengungkapkan rasa bangganya bisa belajar sekaligus berkontribusi dalam upaya ramah lingkungan.
“Awalnya saya pikir limbah itu sampah. Tapi di sini kami diajarkan cara mengolahnya jadi sesuatu yang bisa dipakai. Saya belajar mengelas, memotong kayu, sampai mengecat. Ilmu ini akan saya manfaatkan setelah bebas nanti,” ungkapnya.
Kegiatan ini juga mendapat apresiasi dari Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Maluku, Ricky Dwi Biantoro, menyebut bahwa program tersebut sejalan dengan prinsip pemasyarakatan modern berbasis kemandirian dan berwawasan lingkungan.
“Program ini sangat strategis, tidak hanya mendidik warga binaan menjadi lebih produktif, tapi juga mengajarkan nilai keberlanjutan.,” kata Ricky.
Dengan adanya pemanfaatan limbah secara kreatif ini, Rutan Ambon berharap bisa terus mencetak warga binaan yang terampil, mandiri, dan sadar akan pentingnya menjaga lingkungan. Program ini juga diharapkan mampu memberikan nilai tambah dalam proses reintegrasi sosial warga binaan setelah menyelesaikan masa pidananya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *