Lapas Wahai Luncurkan Aplikasi SAPA-BINA, Terobosan Cek Kesehatan Digital untuk Warga Binaan
Wahai, Salawaku– Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas III Wahai terus membuktikan komitmennya dalam memberikan pelayanan prima. Kali ini, inovasi layanan kesehatan proaktif bernama Sinergi Aksi Pelayanan Aktif bagi Warga Binaan (SAPA-BINA) resmi diluncurkan dalam bentuk aplikasi untuk menjamin pemenuhan hak kesehatan Warga Binaan, Sabtu (18/7). Program SAPA-BINA mengusung konsep jemput bola di mana petugas medis tidak hanya menunggu di klinik, tetapi turun langsung menyambangi blok-blok hunian Warga Binaan.
Inovasi ini dijalankan bersinergi dengan Puskesmas Perawatan Wahai. Untuk memastikan hasil diagnosis dan evaluasi berjalan dengan baik, Lapas Wahai memadukan layanan ini dengan sistem digital. Data pasien, aktivitas harian, kualitas tidur, pola makan, riwayat penyakit, hingga keluhan yang dirasakan, diolah melalui instrumen digital. Hal ini membuat proses analisis kesehatan Warga Binaan menjadi jauh lebih cepat, akurat, dan transparan.
Kalapas mengatakan aplikasi ini bermanfaat dalam memberikan informasi kesehatan terkait kebutuhan kalori harian, kebutuhan air putih, serta analisis jam tidur sehingga menghasilkan rekam medis berupa status pola hidup dan saran kesehatan bagi Warga Binaan. “Dengan sistem digital ini, data yang masuk lebih cepat diolah dan akurat. Ini membantu kami menganalisa tingkat kesehatan Warga Binaan secara menyeluruh. Kami juga bisa langsung menghimpun database untuk membuat grafik tren analisis kesehatan Warga Binaan secara berkala dari layanan ini,” ungkap Tersih.
Perawat Lapas Wahai, Fajar Pradhana, menyatakan aplikasi ini sangat mempermudah tugasnya dalam memantau kondisi kesehatan harian para Warga Binaan secara real-time. “Sebelumnya kami harus merekap data medis secara manual satu per satu yang memakan banyak waktu. Dengan aplikasi SAPA-BINA, begitu data tanda-tanda vital dan keluhan diinput saat jemput bola ke blok, sistem langsung mengeluarkan analisis status kesehatan mereka. Ini akan membuat penanganan medis menjadi jauh lebih responsif,” jelasnya.
Sementara itu, Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Maluku, Ricky Dwi Biantoro, memberikan apresiasi atas peluncuran aplikasi SAPA-BINA. Menurutnya, inovasi ini merupakan langkah maju yang sangat krusial dalam digitalisasi pelayanan publik di lingkungan Pemasyarakatan.
“Transformasi digital dalam layanan kesehatan proaktif seperti ini tidak hanya meningkatkan efisiensi dan akurasi rekam medis, tetapi juga menjadi bukti nyata pelayanan humanis bagi Warga Binaan,” ujar Ricky seraya berharap inovasi SAPA-BINA di Lapas Wahai menjadi percontohan yang direplikasi jajaran Pemasyarakatan lainnya di wilayah Maluku.
Kehadiran aplikasi SAPA-BINA membuktikan Lapas Wahai terus bergerak maju menghadirkan pelayanan prima, inklusif, dan adaptif. Lebih dari sekadar inovasi digital, layanan proaktif ini menjadi bukti nyata pemenuhan Hak Asasi Manusia dan pendekatan humanis tetap menjadi prioritas utama di balik jeruji demi mewujudkan Sistem Pemasyarakatan yang memanusiakan manusia.

