Dari Alam Menjadi Penerang, Mahasiswa KKN-PPM UGM Manfaatkan Tenaga Surya untuk Penerangan Jalan

Namlea,Salawaku – Jalanan gelap di Desa Sanleko, Kecamatan Namlea, Pulau Buru, kini mulai bersinar. Sebanyak dua unit penerangan jalan umum berbasis tenaga surya resmi beroperasi setelah dipasang oleh tim Kuliah Kerja Nyata – Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat (KKN-PPM) UGM Buru Basudara. Program ini merupakan wujud nyata pengabdian mahasiswa dalam menjawab kebutuhan mendesak masyarakat akan infrastruktur penerangan yang aman dan berkelanjutan.

Ide pemasangan lampu jalan muncul dari hasil observasi tim di lapangan. Jalan desa yang menghubungkan pemukiman menuju kawasan Pantai Sanleko ternyata masih gelap gulita pada malam hari. Padahal, jalur tersebut kerap dilalui wisatawan yang berkemah di pantai, sehingga risiko kecelakaan dan gangguan keamanan menjadi perhatian serius. Kondisi itulah yang mendorong para mahasiswa untuk segera bertindak.

“Jalanan desa sangat gelap dan sangat membutuhkan penerangan. Saya sangat setuju dengan adanya program kerja ini,” ujar Pak Abdul, salah satu pengurus Desa Sanleko, dengan antusias. “Katong (kami) siap mendukung program kerja anak-anak semua,” tambahnya mewakili warga setempat.

Yang membuat program ini istimewa adalah pendekatan ramah lingkungan yang digunakan. Selain mengandalkan energi surya sebagai sumber listrik, tim KKN-PPM juga memanfaatkan kayu dari hutan setempat sebagai tiang lampu. Material alami ini dipilih untuk menekan biaya sekaligus mengangkat potensi sumber daya lokal yang melimpah.

Proses pengerjaan tidak berjalan instan. Tim mahasiswa bersama pemuda desa bahu-membahu melakukan setiap tahapan secara manual, mulai dari pengambilan kayu di hutan, pembuangan kulit kayu, hingga pengecatan tiang. Proses ini menjadi pengalaman berharga sekaligus sarana belajar bersama tentang kekayaan alam Pulau Buru.

“Seru sekali bisa masuk ke dalam hutan bersama warga lokal. Biarpun kaki kami kotor dengan lumpur hutan bakau, tapi pengalaman ini akan menjadi kenangan yang sulit terlupakan,” ujar Rifa’i, salah satu anggota tim KKN-PPM Buru Basudara, dengan penuh semangat. Ia menambahkan bahwa perjalanan panjang dari pembangunan mengajarkan satu hal: “Alam memberikan banyak hal asalkan kita mau berusaha.”

Setelah tiang siap, pemasangan dilanjutkan dengan penyusunan sistem panel surya yang dikerjakan secara gotong royong. Antusiasme warga dan pemuda desa menjadi pemicu semangat bagi tim untuk terus berkarya. “Masyarakat di sini selalu antusias dengan berbagai program kerja yang kami laksanakan. Itulah salah satu alasan kami untuk terus semangat mengabdi,” tambah Rifa’i.

Kini, dua lampu jalan telah terpasang dan berfungsi dengan baik. Jalanan yang tadinya gelap kini terang benderang, memudahkan mobilitas warga dan wisatawan yang melintas di malam hari. Warga Desa Sanleko pun menyambut hangat hasil kerja nyata ini.

“Alhamdulillah, sekarang jalanan yang gelap sudah menjadi terang. Program kerja yang sangat berguna dan bermanfaat bagi kami,” ujar Pak Abdul dengan penuh rasa syukur saat dimintai testimoni.

Kegiatan ini menjadi bukti bahwa penerangan jalan tidak harus mengandalkan material mahal dari luar. Tiang dari kayu hutan lokal dan energi dari sinar matahari yang melimpah di Pulau Buru adalah perpaduan sempurna yang menunjukkan kearifan lokal berpadu dengan teknologi ramah lingkungan.

Panasnya Pulau Buru yang menyengat ternyata menyimpan potensi tenaga surya yang patut dimaksimalkan. Sementara lebatnya hutan mengingatkan bahwa alam Maluku masih rindang dan layak dijaga, serta dimanfaatkan secara bijak untuk kesejahteraan bersama. Sebuah pelajaran berharga bahwa keberlanjutan bukanlah mimpi, melainkan pilihan yang bisa diwujudkan dari desa.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *