Ibadah Minggu di Lapas Wahai Jadi Ruang Refleksi dan Penguatan Spiritual Warga Binaan Kristen
Wahai, Salawaku– Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas III Wahai terus memperkuat program pembinaan kepribadian bagi Warga Binaan melalui kegiatan keagamaan. Salah satunya diwujudkan lewat pelaksanaan Ibadah Minggu yang digelar di Gereja Ebenhaizer Lapas Wahai, Minggu (25/1).
Ibadah Minggu tersebut dipimpin oleh Diakon Ny. Elvy Patty dengan tata ibadah Minggu ke-IV. Firman Tuhan diambil dari Mazmur 147:1–20, yang mengangkat pesan tentang kekuasaan dan kemurahan Tuhan. Ibadah diikuti oleh Warga Binaan Kristen dengan penuh penghayatan sebagai sarana pembinaan mental dan rohani selama menjalani masa pidana.
Dalam penyampaian firman, Diakon Elvy Patty menekankan bahwa kasih dan kuasa Tuhan hadir bagi setiap orang tanpa terkecuali. Ia mengajak Warga Binaan untuk tidak kehilangan harapan, tetap bersyukur, serta menjadikan masa pembinaan sebagai kesempatan untuk memperbaiki diri dan membangun iman yang lebih kuat.
Kepala Lapas Wahai, Tersih Victor Noya, menyatakan bahwa kegiatan ibadah merupakan bagian dari komitmen Lapas dalam memenuhi hak dasar Warga Binaan, khususnya hak untuk menjalankan ibadah sesuai keyakinan masing-masing.
“Pembinaan kerohanian memiliki peran strategis dalam membentuk kepribadian Warga Binaan. Kami berharap melalui ibadah dan kegiatan rohani lainnya, mereka dapat mengalami perubahan sikap, memiliki ketenangan batin, serta kesiapan mental saat kembali ke masyarakat,” ujarnya.
Senada dengan itu, Kepala Subseksi Pembinaan Lapas Wahai, Merpaty Susana Mouw, menegaskan bahwa program pembinaan keagamaan akan terus dilaksanakan secara rutin dan berkesinambungan.
“Kegiatan ibadah ini diharapkan mampu membentuk karakter Warga Binaan yang lebih sabar, disiplin, dan optimistis dalam menjalani proses pembinaan,” jelas Merpaty.
Dukungan juga disampaikan Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Maluku, Ricky Dwi Biantoro, yang menegaskan bahwa pembinaan iman merupakan bagian penting dari sistem Pemasyarakatan.
“Pemenuhan hak beribadah dan pembinaan mental spiritual menjadi fondasi dalam membentuk Warga Binaan yang bertanggung jawab, menyadari kesalahan, serta siap menjalani proses reintegrasi sosial,” katanya.
Melalui pelaksanaan ibadah rutin ini, Lapas Wahai berharap dapat menumbuhkan nilai-nilai keimanan dan moral Warga Binaan Kristen sebagai bekal positif dalam menjalani kehidupan yang lebih baik ke depan.


