Perempuan yang Tak Menunggu: Jejak Sunyi dan Kuat Seorang Safitri Malik Soulisa

Ambon, Salawaku– Ada satu hal yang sering dilupakan banyak orang: perempuan hebat tidak selalu lahir dari panggung besar. Ia justru tumbuh dari ruang-ruang sederhana dari dapur, dari ruang keluarga, dari percakapan kecil yang pelan-pelan membentuk cara pandang dan keberanian.

Safitri Malik Soulisa adalah salah satunya, ia Lahir di Ternate, 15 September 1977, ia tumbuh diantara tujuh bersaudara.

Didikan orang tuanya membentuk karakter yang tidak mudah bergantung. Ayahnya mengajarkan disiplin dan tanggung jawab, sementara ibunya menanamkan ketegasan serta kemandirian.

Sejak kecil, satu hal sudah jelas: hidup tidak boleh dijalani setengah hati.

Sosok Safitri beranjak dari Rumah ke Ruang Publik. Safitri sebelum dikenal sebagai politisi, Safitri adalah seorang ibu rumah tangga. Peran yang sering dianggap biasa, padahal justru menjadi fondasi dari banyak hal besar.

Di rumah itulah, ia membangun lingkungan yang hidup penuh diskusi, penuh dinamika, bahkan sarat dengan nuansa politik. Anak-anaknya tumbuh dalam ruang yang membuat mereka terbiasa berpikir, berbicara, dan memahami realitas sosial.

Tak heran, ketika mereka kemudian menapaki dunia politik, semua terasa seperti kelanjutan, bukan kebetulan.

“Kalau dibilang ini anugerah, iya. Tapi tidak mudah,” ujar Safitri.

Karena di balik itu semua, ada proses panjang yang tidak terlihat.

Sosok perempuan yang dikenal banyak belajar dan tidak menunggu.

Sejak muda, Safitri sudah aktif dalam berbagai kegiatan seperti pramuka dan Paskibraka. Dari sana ia belajar disiplin, kerja sama, dan yang paling penting: keberanian untuk mengambil peran.

Ia tidak tumbuh sebagai orang yang menunggu kesempatan. Ia belajar menciptakan kesempatan.

“Perempuan hebat bukan yang menunggu pintu dibuka, tapi yang berani mengetuk bahkan membukanya sendiri.”

Sepenggal peribahasa yang begitu cocok dengan Safitri.

Prinsip itu yang ia pegang hingga akhirnya melangkah ke dunia politik dan menjadi anggota DPRD Provinsi Maluku 2014–2019.

Baginya, politik bukan sekadar jabatan. Ia adalah ruang belajar yang tidak pernah selesai penuh dinamika, penuh kemungkinan, dan kadang penuh kejutan.

Tentang Perempuan dan Cara Bertahan

Dalam perjalanannya, Safitri melihat satu hal yang sering terjadi: perempuan justru saling melemahkan.

Safitri mengingatkan agar perempuan tidak saling menjatuhkan, tidak saling “julid”. Karena setiap orang memiliki jalan hidupnya sendiri, dengan perjuangan yang tidak selalu terlihat.

“Kalau orang bilang enaknya jadi Bunda, ya aminkan saja,” katanya ringan.

Baginya, tidak semua hal perlu diluruskan. Tidak semua penilaian harus dilawan. Dalam dunia yang penuh persepsi, ketenangan adalah kekuatan.

Peribahasa modern lainnya ia yakini:

“Perempuan kuat tidak sibuk menjatuhkan yang lain, tapi fokus membangun dirinya.”

Kuat dalam Diam, Teguh dalam Tekanan

Tekanan, kritik, bahkan penilaian negatif adalah bagian dari perjalanan. Namun Safitri memilih cara yang berbeda dalam menghadapinya.

Ia tidak banyak melawan dengan kata-kata. Ia memilih diam, bekerja, dan menyerahkan hal-hal yang tidak bisa ia kendalikan kepada Tuhan.

Karena ia percaya, tidak semua orang ingin melihat kita berhasil. Dan itu tidak apa-apa.

Yang penting, tetap berjalan.

Tentang Kalah dan Tidak Menyerah

Dalam dunia politik, kalah adalah hal yang tidak bisa dihindari. Safitri pernah merasakannya. Tapi baginya, kalah bukan akhir.

“Kalau orang lain berhasil dan kita tidak, ya sudah. Biarkan mereka bekerja.”

Ia tidak memilih iri. Ia tidak memilih menjatuhkan. Ia memilih menerima.

Karena baginya, kemenangan sejati bukan tentang mengalahkan orang lain, tetapi tentang tidak kehilangan diri sendiri.

Begitu banyak mimpi yang sederhana,

ditengah berbagai pencapaian, mimpinya justru sederhana: ingin melihat dunia lebih luas Amerika, Australia, Turki. Bukan sekadar membaca, tapi mengalami langsung.

Namun tentang kehidupan, ia merasa cukup.

Keluarga yang bertumbuh, anak-anak yang menemukan jalannya, dan perjalanan yang penuh makna itu sudah lebih dari cukup.

Perjalanan politik Safitri Malik Soulisa memperlihatkan transformasi dari seorang pendamping menjadi pemimpin utama. Saat suaminya, Tagob Sudarsono Soulisa, menjabat sebagai Bupati Buru Selatan, Safitri mengambil peran penting sebagai Ketua Tim Penggerak PKK (TP-PKK) Bursel.

Di posisi itu, ia tidak hanya hadir sebagai simbol, tetapi aktif membangun fondasi sosial melalui program pemberdayaan keluarga, peningkatan kesehatan masyarakat, hingga penguatan ekonomi rumah tangga.

Sebagai Ketua TP-PKK, Safitri Malik Soulisa dikenal turun langsung ke lapangan, menyapa masyarakat dari desa ke desa, memastikan setiap program benar-benar menyentuh kebutuhan riil warga. Dari sinilah ia membangun kedekatan emosional dan kepercayaan publik modal sosial yang kelak menjadi kekuatan politiknya.

Pengalaman mendampingi kepala daerah memberi Safitri pemahaman menyeluruh tentang tata kelola pemerintahan, dinamika birokrasi, hingga kebutuhan strategis pembangunan daerah. Ia tidak hanya belajar dari balik layar, tetapi juga terlibat aktif dalam berbagai agenda sosial dan kemasyarakatan.

Puncaknya, perjalanan itu mengantarkan Safitri melangkah lebih jauh ke panggung politik.

Ia berhasil menorehkan sejarah sebagai Bupati perempuan pertama di Maluku untuk periode 2021–2025. Capaian ini bukan semata hasil momentum, melainkan akumulasi dari kerja panjang, kedekatan dengan masyarakat, serta kapasitas kepemimpinan yang telah teruji.

Kisah Safitri menjadi bukti bahwa peran perempuan dalam politik tidak berhenti pada posisi pendamping. Dengan pengalaman, ketekunan, dan kepekaan sosial, ia mampu menembus batas dan memimpin, sekaligus membuka jalan bagi lebih banyak perempuan untuk berkiprah di ruang-ruang strategis pemerintahan.

Bagi Safitri Malik Soulisa, menjadi perempuan bukanlah batasan melainkan kekuatan.

Ia membuktikan bahwa perempuan bisa menjadi apa saja: ibu, pemimpin, penggerak, sekaligus penjaga nilai-nilai dalam keluarga.

Dan mungkin, satu kalimat yang merangkum semuanya adalah ini:

“Perempuan hebat bukan yang hidup tanpa beban, tapi yang tetap berdiri tegak meski memikul banyak peran.”

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *