Tak Sekadar Cemilan, Keripik Pisang Rutan Ambon Hadirkan Harapan dan Kemandirian

Ambon, Salawaku– Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas IIA Ambon terus mendorong pelaksanaan pembinaan kemandirian bagi warga binaan melalui berbagai kegiatan produktif. Salah satunya dilakukan melalui pembuatan keripik pisang yang tidak hanya menjadi sarana mengembangkan keterampilan, tetapi juga membuka peluang ekonomi bagi warga binaan. Senin (07/09)

Kegiatan pembuatan keripik pisang tersebut merupakan bagian dari program pembinaan kemandirian yang bertujuan membekali warga binaan dengan keterampilan praktis dan jiwa kewirausahaan. Melalui kegiatan ini, warga binaan diberikan kesempatan untuk belajar mengolah bahan sederhana menjadi produk makanan yang memiliki nilai jual.

Dengan memanfaatkan pisang sebagai bahan utama, warga binaan mengolahnya menjadi keripik dengan cita rasa yang renyah dan tersedia dalam dua pilihan rasa, yakni original dan cokelat. Produk tersebut kemudian dikemas dan dipasarkan sebagai salah satu bentuk nyata hasil pembinaan kemandirian di Rutan Ambon.

produk keripik pisang hasil karya warga binaan pun cukup positif. Dalam penjualan terbaru, sebanyak 30 bungkus keripik pisang berhasil terjual, terdiri dari 14 bungkus varian cokelat dengan harga Rp10.000 per bungkus dan 16 bungkus varian original dengan harga Rp5.000 per bungkus.

Dari penjualan tersebut, varian cokelat menghasilkan Rp140.000, sedangkan varian original menghasilkan Rp80.000, sehingga total penjualan mencapai Rp220.000 dari 30 bungkus keripik pisang.

Kasubsi Bimbingan Kerja Rutan Kelas IIA Ambon, Ode Ena, menjelaskan bahwa kegiatan pembuatan keripik pisang menjadi salah satu bentuk pembinaan yang memberikan kesempatan kepada warga binaan untuk belajar secara langsung mengenai proses produksi hingga pemasaran.

“Melalui kegiatan ini, warga binaan tidak hanya belajar membuat keripik pisang, tetapi juga belajar bagaimana menjaga kualitas produk, mengemas dengan baik, menentukan harga, serta memasarkannya. Hal-hal sederhana seperti ini penting sebagai bekal mereka untuk bisa lebih mandiri setelah kembali ke masyarakat,” jelas Ode Ena.

Salah seorang warga binaan yang terlibat dalam pembuatan keripik pisang, Clifort, mengaku senang dapat mengikuti kegiatan pembinaan tersebut. Baginya, kegiatan ini memberikan pengalaman baru sekaligus kesempatan untuk mempelajari keterampilan yang dapat bermanfaat setelah kembali ke masyarakat.

“Awalnya kami belajar dari proses sederhana, mulai dari menyiapkan pisang, mengolahnya, sampai menjadi keripik dan mengemasnya. Saya senang karena hasil yang kami buat ternyata disukai dan dibeli oleh masyarakat. Ini membuat kami semakin semangat untuk terus belajar dan menghasilkan produk yang lebih baik,” ujar Clifort.

Clifort berharap kegiatan seperti ini dapat terus berjalan dan dikembangkan. Ia juga mengaku mendapatkan banyak pengalaman selama mengikuti kegiatan pembinaan kemandirian, khususnya dalam bekerja sama, menjaga kualitas produk, dan bertanggung jawab terhadap pekerjaan yang dilakukan.

“Saya berharap keterampilan yang saya dapat di sini bisa menjadi bekal ketika nanti kembali ke luar. Kalau ada kesempatan, saya ingin bisa membuat usaha sendiri dan menerapkan keterampilan yang sudah dipelajari selama mengikuti pembinaan,” tambahnya.

Kepala Rutan Kelas IIA Ambon, Meta Putra, menyampaikan bahwa pembinaan kemandirian merupakan bagian penting dalam proses pemasyarakatan. Menurutnya, warga binaan tidak hanya menjalani masa pidana, tetapi juga harus mendapatkan pembekalan keterampilan sebagai modal untuk kembali dan beradaptasi di tengah masyarakat.

“Pembinaan kemandirian menjadi salah satu upaya kami untuk memberikan bekal keterampilan kepada warga binaan. Melalui pembuatan keripik pisang ini, mereka dapat belajar mengolah produk, bekerja secara bersama-sama, sekaligus memahami proses produksi hingga pemasaran,” ujar Meta Putra.

Ia menambahkan bahwa hasil penjualan produk karya warga binaan menjadi penyemangat agar kegiatan pembinaan terus dikembangkan. Dukungan masyarakat terhadap produk tersebut juga dinilai penting dalam memberikan apresiasi sekaligus membuka peluang bagi warga binaan untuk terus berkarya.

Ke depan, Rutan Kelas IIA Ambon akan terus berupaya mengembangkan berbagai program pembinaan yang produktif dan sesuai dengan potensi warga binaan. Pengembangan produk keripik pisang diharapkan dapat dilakukan secara berkelanjutan, termasuk melalui peningkatan kualitas rasa, variasi produk, kemasan, hingga strategi pemasaran.

Dengan semangat berkarya dan dukungan dari masyarakat, keripik pisang Rutan Ambon diharapkan tidak hanya menjadi camilan, tetapi juga menjadi simbol perubahan, kreativitas, dan harapan baru bagi warga binaan untuk mempersiapkan diri menuju kehidupan yang lebih mandiri setelah kembali ke masyarakat.

Melalui pembinaan yang konsisten dan berkelanjutan, Rutan Kelas IIA Ambon berkomitmen untuk terus menghadirkan program-program yang mampu memberikan keterampilan dan pengalaman positif bagi warga binaan sebagai bagian dari proses reintegrasi sosial.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *