Kalapas Geser Paparkan Strategi Pembinaan Warga Binaan di Wilayah Kepulauan
Geser, Salawaku – Kepala Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas III Geser, Nober Hasanda, memaparkan strategi pembinaan kemandirian warga binaan dalam kegiatan Community of Practice (CoP) yang digelar secara virtual oleh Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan (Kanwil Ditjenpas) Maluku, Rabu (16/9).
Dalam kegiatan yang mengangkat tema “Tantangan dan Peluang Pembinaan Kemandirian Warga Binaan pada Daerah Kepulauan” itu, Nober menyoroti berbagai tantangan yang dihadapi UPT Pemasyarakatan di wilayah kepulauan, mulai dari keterbatasan konektivitas, akses logistik, pasar lokal hingga tingginya biaya distribusi.
Menurutnya, kondisi geografis tersebut tidak boleh menjadi hambatan dalam pelaksanaan pembinaan. Sebaliknya, potensi sumber daya lokal dapat dikembangkan menjadi peluang bagi warga binaan untuk memiliki keterampilan dan bekal usaha sebelum kembali ke masyarakat.
“Fokus kita adalah memanfaatkan potensi sumber daya alam lokal Maluku, seperti perikanan, pertanian rempah pala dan cengkeh, olahan pangan serta kerajinan daerah. Dengan pengemasan modern, standardisasi mutu dan pemasaran digital, produk warga binaan diharapkan mampu bersaing lebih luas,” kata Nober.
Ia menegaskan, pemasyarakatan pada dasarnya bukan sekadar menjalankan pembinaan selama masa pidana, tetapi juga mempersiapkan warga binaan agar mampu kembali ke tengah masyarakat secara produktif dan mandiri.
Kegiatan tersebut dibuka Kepala Bidang Pelayanan dan Pembinaan Kanwil Ditjenpas Maluku, Novriadi. Ia mengatakan, CoP menjadi ruang untuk menyamakan pemahaman sekaligus memetakan tantangan dan potensi daerah dalam pelaksanaan pembinaan kemandirian.
“Materi yang disampaikan sangat komprehensif, mulai dari pemetaan tantangan hingga solusi seperti digitalisasi pemasaran dan kemitraan dengan pemerintah daerah. Ini menjadi acuan bagi UPT Pemasyarakatan di Maluku,” ujar Novriadi.
Dukungan terhadap penguatan pembinaan di wilayah kepulauan juga disampaikan Kepala Kanwil Ditjenpas Maluku, Ricky Dwi Biantoro. Menurutnya, strategi pembinaan harus disesuaikan dengan karakteristik dan potensi lokal masing-masing daerah.
“Pembinaan kemandirian di daerah kepulauan harus responsif terhadap kearifan lokal agar warga binaan memiliki bekal nyata yang dapat diterapkan saat kembali ke masyarakat,” ungkap Ricky.
Sementara itu, pegawai Lapas Geser, Krisselto P. Pattiwael, mengaku mendapat wawasan baru dari kegiatan tersebut. Ia menilai keterbatasan geografis justru dapat menjadi pemicu lahirnya inovasi dalam pembinaan warga binaan.
“Standardisasi mutu dan pemasaran digital memberikan gambaran yang jelas mengenai arah pembinaan kemandirian ke depan. Kami siap mengeksekusi strategi tersebut agar produk warga binaan mampu bersaing,” katanya.
Hal senada disampaikan peserta magang, Megawati Kelderak. Ia mengaku kegiatan tersebut memberikan pemahaman baru mengenai tantangan sekaligus potensi pembinaan pemasyarakatan di wilayah kepulauan.
“Melalui pemaparan Bapak Kalapas Geser, kami belajar bahwa keterbatasan wilayah bukan penghalang untuk berinovasi. Ini membuka wawasan kami tentang bagaimana pemasyarakatan bekerja secara nyata dalam memanusiakan warga binaan,” ujarnya.
Melalui kegiatan CoP tersebut, Lapas Geser bersama Kanwil Ditjenpas Maluku dan jajaran UPT Pemasyarakatan di Maluku terus mendorong penguatan pembinaan kemandirian berbasis potensi lokal, sehingga warga binaan memiliki keterampilan dan bekal yang dapat dimanfaatkan setelah kembali ke masyarakat.

