Hadirkan Sejumlah Narsum, BPIP Gelar Sosialisasi Pendidikan Pancasila di Ambon

Ambon, Salawaku-Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) menggelar Sosialisasi Pendidikan Pancasila Pada Jenjang Pendidikan Tinggi di Kota Ambon.

Kegiatan ini dipusatkan di Santika Hotel Ambon, Jumat (25/7/2025) menghadirkan para narasumber : 1) Prof. Dr. Muhammad Amin Abdullah (Anggota Dewan Pengarah BPIP) dengan Topik: Problematika Pendidikan Pancasila sebagai Mata Kuliah Wajib Kurikulum (MKWK) pada Pendidikan Tinggi. 2) Prof. Dr. John Pieris S.H., M.S. (Anggota Dewan Pakar BPIP) dengan Topik: Rekonstruksi Peran dan Fungsi BPIP dalam Penguatan dan Pengamalan Pancasila dalam Kehidupan Bermasyarkat, Berbangsa dan Bernegara dan 3) Dr. Berry Juliandi, M.Si (Plt. Direktur Pembelajaran dan Kemahasiswaan Kemendiktisaintek) dengan Topik: Pelaksanaan Pendidikan Pancasila sebagai salah satu Mata Kuliah Wajib Kurikulum pada Pendidikan Tinggi dan 4),Dr. Johanes Haryatmoko, SJ.(Staff Khusus Ketua Dewan Pengarah BPIP) dengan Topik: Pencapaian Pembelajaran Pancasila pada Pendidikan Tinggi dengan Metode dan Pendekatan Konkrit.

Sementara panelis a) Dr. Abidin Wakano, M.Ag. (Rektor UIN A.M. Sangaji Ambon), b) Dr. Sherlock Halmes Lekipiouw S.H., M.H. (Dosen Universitas Pattimura Ambon), c) Dr. Henky Herzon Hetharia, M.Th. (Rektor Universitas Kristen Indonesia Ambon) dan Dr. Pieter J. Pelupessy, M.Si Dosen Universitas Pattimura dan Anggota Perhimpunan Dosen Pancasila dan Kewarganegaraan Nusantara (PDKN).

oplus_2

Dalam diskusi ini juga dipandu oleh Moderator Dr Henry M. Sopacua, S.Pd., S.H., M.H (Dosen Unpatti Ambon).

Prof. Drs. K.H. Yudian Wahyudi, M.A., Ph.D. (Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) RI) dalam sambutannya menyampaikan, program prioritas nasional adalah penguatan ideologi Pancasila melalui berbagai jalur pendidikan, baik formal maupun non-formal.

Dikatakan ini merupakan poin pertama dalam naskah cinta program pemerintah dari Bapak Presiden dan Wakil Presiden. “Oleh karena itu, kami terus mendorong sinergi dan gotong royong dengan kementerian/lembaga, pemerintah daerah, organisasi sosial kemasyarakatan, dan lembaga pendidikan seperti sekolah, pesantren, hingga perguruan tinggi.

Gerakan Warga Tangguh Pancasila harus kita galakkan secara menyeluruh, dengan melibatkan teknologi dan inovasi,” tandasnya.

Segenap civitas akademika, mengapa pendidikan Pancasila begitu penting? karena ideologi bangsa tidak cukup hanya dibicarakan dalam seminar-seminar, tapi harus dirasakan dalam denyut nadi kehidupan sehari-hari.

Menurutnya, di era digital saat ini, kita dihadapkan pada tantangan yang belum pernah dialami oleh generasi sebelumnya, seperti banjir informasi, krisis identitas, paham ekstremisme, dan pengaruh ideologi global yang bertentangan dengan nilai-nilai luhur bangsa.

Ideologi bangsa menjadi rentan terombang-ambing. Oleh sebab itu, pendidikan Pancasila bukan pilihan, tetapi keharusan.

” Kita ingin generasi muda Indonesia tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga kuat secara moral dan berkarakter kebangsaan. Pendidikan tinggi tidak cukup hanya membekali mahasiswa dengan keterampilan teknis dan pengetahuan akademik. Mereka juga harus memiliki daya tahan etis dan jati diri kebangsaan yang berakar kuat pada nilai-nilai Pancasila,” ungkapnya.

Karena itu dengan pendidikan Pancasila, diharapkan mahasiswa dan generasi muda mampu menjawab berbagai tantangan zaman. Mereka harus dapat melakukan audit etik, mengevaluasi keseimbangan antara nilai-nilai ideal Pancasila dan kenyataan sosial-politik di masyarakat. Lebih jauh, generasi muda harus mampu:

a) Mengidentifikasi permasalahan etika publik,

b) Menelusuri akar persoalan sosial,

c) Merumuskan solusi berbasis Pancasila dan metode ilmiah,

d) Mengembangkan kemampuan berpikir kritis, analitis, dan evaluatif, Hingga mampu menghasilkan karya nyata berupa tulisan ilmiah, media kreatif, maupun proyek komunitas yang mencerminkan penerapan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

” Dengan demikian, menjadi tugas kita bersama orang tua, guru, dosen, pejabat pemerintah, dan tokoh masyarakat untuk terus melakukan pembinaan dan pendampingan dalam menanamkan nilai-nilai Pancasila kepada anak-anak kita, murid-murid kita, dan mahasiswa kita. Karena merekalah yang akan meneruskan perjuangan bangsa di masa depan,” ujarnya

Sementara itu, Gubernur Maluku Hendrik Lewerissa dalam sambutannya yang dibacakan sekda Maluku, Sadali Ie mengatakan, pendidikan Pancasila di perguruan tinggi harus mampu menjadi wahana untuk membentuk harmoni sosial dan memperkuat semangat persatuan. Kerja sama BPIP dengan perguruan tinggi ini merupakan langkah konkret dalam menanamkan ideologi bangsa melalui jalur pendidikan.

Pemerintah Provinsi Maluku sangat mendukung penyusunan CPMK ini.

“Kami berharap agar nilai-nilai luhur seperti ketuhanan, kemanusiaan yang adil dan beradab, persatuan dalam kebinekaan, demokrasi yang bermartabat, dan keadilan sosial dapat diintegrasikan secara menyeluruh dalam kurikulum. Ini bukan sekadar urusan teknis akademik, namun bagian penting dari ikhtiar besar kita bersama dalam membumikan nilai-nilai Pancasila di ruang-ruang pendidikan tinggi, guna membentuk karakter mahasiswa dan memperkuat fondasi ideologis generasi muda bangsa,” jelasnya.

Gubernur mengajak agar jadikan Pancasila bukan hanya sebagai materi ajar, tetapi sebagai napas dalam pembentukan karakter, arah kebijakan, dan jati diri bangsa.

“Saya mengajak seluruh peserta kegiatan ini untuk terlibat secara aktif, terbuka, dan kolaboratif. Gunakan forum ini untuk berbagi gagasan dan menyempurnakan kurikulum agar benar-benar berdampak positif bagi mahasiswa dan masyarakat.

Mari kita jadikan Pancasila bukan hanya sebagai materi ajar, tetapi sebagai napas dalam pembentukan karakter, arah kebijakan, dan jati diri bangsa,” ajaknya.

Hadir dalam kegiatan ini, Prof. Drs. K.H. Yudian Wahyudi, M.A., Ph.D. (Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) RI), Prof. Dr. Muhammad Amin Abdullah (Anggota Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) RI), Ir. Prakoso M.M (Deputi Bidang Hukum antar Agama Sosialisasi, komunikasi dan jaringan), Dr. Surahno SH., M,Hum (Deputi bidang pengkajian dan Materi), Dr. Adhyanti S.IP., M.Si (Deputi bidang pengendalian dan Evaluasi), Dr. Johanes Haryatmoko SJ (Staff khusus BPIP), Prof. Dr. John Pieris SH., M.Si. (Dewan Pakar BPIP), Irene Camelyn Sinaga (Direktur Pengkajian Implementasi), Elfrida (Direktur Evaluasi), Achdyat (Anjak Madya Dit Soskom), Marsma TNI R. Harys Soeryo M., M.M. (Kabinda Maluku), Kolonel Inf. Angkat Purbadi (Pamen Ahli Bid Hukum dan Humaniter Kodam XV/Ptm), Rajendra D. Wiritanaya, S.H (Asintel Kejati Maluku), Kol. PNB Sugeng Sugiharto S. Sos. MM (Danlanud Patimura Ambon), Kombes Pol Rositah Umasugi S.I.K (Kabid Humas Polda Maluku), Dr Abidin Wakano M. Ag) Rektor UIN Ambon (Raktor UIN Ambon Prof. Dr. Dominggus Malle, S.Pt, M.Sc (Wakil Rektor I Universitas Pattimura) , Letkol (Mar) Tamiyasin Hehanusa (Komandan Marinir Lantamal IX, Dr. Henky Herzon Hetharia, M.Th.(Rektor Universitas Kristen Indonesia Ambon), Dr. Sherlock Halmes Lekipiouw S.H., M.H.(Dosen Universitas Pattimura Ambon), Dr. Pieter J. Pelupessy, M.Si. (Dosen Universitas Pattimura dan Anggota Perhimpunan Dosen Pancasila dan Kewarganegaraan Nusantara (PDKN) ), Perwakilan Peserta dari 7 Perguruan tinggi Sekota Ambon dan Tamu undangan sekitar 300 orang. (NN)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *