Festival Marawai Jadi Momentum Pelestarian Budaya dan Persatuan Anak Negeri Hatalai

Ambon, Salawaku — Ketua Panitia Festival Budaya Marawai, Jonathan Kainama, menegaskan bahwa penyelenggaraan Festival Marawai bukan sekadar pertunjukan seni dan budaya, tetapi menjadi momentum untuk memperkuat persatuan, menggali potensi anak negeri, sekaligus memperkenalkan kekayaan budaya Negeri Hatalai kepada masyarakat luas.

Dalam laporan panitia pada pembukaan Festival Marawai di Negeri Hatalai, Selasa (25/8/2026), Jonathan menyampaikan rasa syukur atas terselenggaranya kegiatan tersebut. Ia mengatakan, Festival Marawai merupakan bagian dari rangkaian persiapan panitia dalam mendukung pelaksanaan Sidang Klasis Gereja Protestan Maluku (GPM) yang akan datang.

“Sebagai panitia, kami merasa penting untuk mengajak seluruh hadirin bersama-sama menaikkan puji dan syukur kepada Tuhan atas kasih, penyertaan, kesehatan dan kesempatan sehingga kita dapat berkumpul dalam acara Festival Marawai,” ujar Jonathan.

Ia menjelaskan, panitia festival dibentuk dari anak-anak Negeri Hatalai yang berada di Hatalai, Ambon dan sekitarnya. Seluruh potensi tersebut kemudian dihimpun untuk bekerja bersama menyukseskan berbagai agenda yang memberikan manfaat bagi negeri dan jemaat.

Menurutnya, Festival Marawai dengan tema “Harmoni, Cinta dan Nada untuk Negeri” menjadi salah satu kegiatan utama panitia untuk membangun dukungan terhadap pelaksanaan agenda klasis. Namun, lebih dari kepentingan tersebut, festival diharapkan menjadi ruang konsolidasi seluruh potensi anak negeri.

“Kami ingin ada momentum yang dapat menggerakkan dan mengonsolidasikan semua potensi anak negeri agar menyatu bersama untuk kepentingan yang berdampak bagi negeri, jemaat, bahkan masa depan anak-anak negeri,” katanya.

Promosikan Kekayaan Budaya Hatalai

Jonathan menilai Negeri Hatalai memiliki kekayaan budaya, seni, musik dan kuliner yang selama ini menjadi identitas masyarakat setempat. Namun, kekayaan tersebut dinilai masih perlu diperkenalkan lebih luas kepada masyarakat di luar Hatalai.

Karena itu, Festival Marawai diharapkan menjadi panggung promosi budaya sekaligus memperkenalkan Hatalai sebagai salah satu negeri adat di Jazirah Leitimur Selatan yang layak dikunjungi.

“Kami ingin memperkenalkan Hatalai sebagai salah satu negeri adat yang harus dikunjungi, dinikmati tari-tariannya, didengar musik dan lagunya, serta dicicipi berbagai kuliner khasnya,” ungkapnya.

Ia menegaskan, seni dan budaya merupakan bagian penting dari jati diri dan identitas sebuah masyarakat. Karena itu, memperkenalkan budaya Hatalai kepada masyarakat luas menjadi kebanggaan tersendiri bagi panitia dan seluruh anak negeri.

Angkat Sejarah Puncak Marawai

Jonathan menjelaskan, nama Festival Marawai diambil dari Puncak Marawai, sebuah lokasi yang memiliki nilai historis bagi perjalanan peradaban Negeri Hatalai.

Festival tersebut tidak hanya menghadirkan berbagai tarian dan musik tradisional, tetapi juga dimeriahkan sejumlah artis lokal pada sore hingga malam hari.

Selain itu, panitia juga menyiapkan sajian khusus berupa tarian tradisional yang disebut telah lama menjadi bagian dari kegiatan adat dan budaya di Negeri Hatalai.

“Tarian ini sudah hampir 40 tahun tidak pernah dipentaskan di negeri ini. Karena itu, tarian tersebut akan menjadi salah satu sajian utama yang kami perkenalkan kepada Bapak, Ibu dan seluruh undangan,” jelas Jonathan

Empat Harapan Panitia

Jonathan mengungkapkan sedikitnya ada empat harapan yang ingin diwujudkan melalui Festival Marawai.

Pertama, festival diharapkan menjadi awal tumbuhnya semangat untuk melestarikan seni dan budaya sekaligus menjadi agenda yang dapat dilaksanakan secara rutin.

Kedua, kegiatan ini diharapkan mampu mempersatukan seluruh potensi anak negeri untuk mengembangkan diri dan bersama-sama membangun Negeri Hatalai.

Ketiga, Festival Marawai diharapkan dapat menjadi bagian dari kekayaan khasanah budaya Maluku dan Kota Ambon.

Keempat, kegiatan tersebut diharapkan memberikan dukungan finansial bagi pelaksanaan agenda Sidang Klasis GPM yang akan datang.

“Kami percaya harapan-harapan ini dapat diwujudkan karena kami melihat dan merasakan dukungan berbagai pihak terhadap pelestarian seni dan budaya,” katanya.

Jonathan juga menyampaikan apresiasi kepada pemerintah daerah dan seluruh pihak yang telah memberikan perhatian serta dukungan terhadap pelaksanaan Festival Marawai.

Ia menilai dukungan pemerintah daerah menjadi bagian penting dalam menjaga eksistensi seni dan budaya Maluku.

“Kami bangga dan bersyukur karena mendapat perhatian dan dukungan dari pimpinan daerah yang lahir dari bumi Maluku dan memiliki kepedulian terhadap eksistensi serta kelestarian seni dan budaya,” ujarnya.

Apresiasi Sponsor dan Semua Pihak

Di akhir laporannya, Jonathan menyampaikan terima kasih kepada pemerintah daerah, tamu undangan, sponsor, serta seluruh pihak yang telah membantu menyukseskan Festival Marawai.

Ia menyebut dukungan tersebut menjadi bukti bahwa pelestarian budaya membutuhkan keterlibatan bersama, bukan hanya pemerintah maupun panitia, tetapi juga masyarakat dan dunia usaha.

“Panitia mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada seluruh pihak yang telah memberikan perhatian, dukungan dan bantuan bagi pelaksanaan kegiatan ini. Kiranya Tuhan Yang Mahakuasa senantiasa memberikan anugerah dan berkat,” tutup Jonathan.

Festival Marawai pun diharapkan tidak berhenti sebagai sebuah pertunjukan, tetapi menjadi gerakan bersama untuk merawat identitas budaya, memperkuat persatuan anak negeri dan mengangat Hatalai sebagai bagian penting dari kekayaan budaya Maluku.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *