Cahaya di Balik Jeruji, Lapas Wahai Canangkan Program Khatam Al-Qur’an bagi Warga Binaan
Wahai, Salawaku — Suasana pembinaan kerohanian di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas III Wahai terus tunjukkan cahaya perkembangan positif. Melalui pendekatan humanis dan keagamaan, Lapas Wahai canangkan program khatam Al-Qur’an yang melibatkan puluhan Warga Binaan beragama Islam di Masjid At-Taubah Lapas mulai Selasa (9/6/2026).
Program yang digagas Kepala Lapas Wahai, Tersih Victor Noya, bersama jajaran subseksi pembinaan dan Majelis Taklim ini dirancang bukan sekadar rutinitas ibadah, tetapi sarana utama dalam pembentukan karakter dan penguatan mental spiritual Warga Binaan. Sebelum mencapai tahap khatam, para Warga Binaan secara konsisten dibimbing melalui program mengaji rutin di Masjid At-Taubah dan Beranda Mesra.
Pendampingan yang diberikan mencakup berbagai tahapan, mulai dari pengenalan dasar huruf Hijaiyah hingga tadarus bagi mereka yang sudah lancar. Dengan semangat belajar yang tinggi, banyak Warga Binaan, bahkan memanfaatkan waktu luang di dalam sel untuk terus mendalami tajwid secara mandiri. Metode pembelajaran yang diterapkan pun sangat partisipatif, seperti praktik membaca Al-Qur’an dengan tartil dan tuma’ninah.
Tersih menegaskan pembinaan spiritual merupakan aspek fundamental dalam proses pemasyarakatan. Pendekatan ini diyakini ampuh untuk meredam emosi, menenangkan batin, dan memberikan kesadaran moral bagi para Warga Binaan.
“Kami ingin memanusiakan manusia melalui pendekatan spiritual. Target kami bukan sekadar mereka bisa membaca, tetapi bagaimana nilai-nilai Al-Qur’an itu meresap ke dalam perilaku sehari-hari di Lapas. Program Khatam Al-Qur’an ini adalah bukti nyata bahwa keterbatasan ruang gerak fisik di dalam jeruji besi tidak membatasi ruang bagi mereka untuk bertobat dan memperbaiki diri,” tegas Tersih.
Salah seorang Warga Binaan berinisial SF, bersyukur dengan adanya program ini. Ia yang awalnya sama sekali tidak bisa membaca Al-Qur’an, kini sudah mulai lancar bertadarus.
“Dulu saya masuk ke sini dengan hati yang penuh penyesalan dan gelisah. Jangankan mengaji, membaca huruf Hijaiyah saja saya tidak tahu. Di sini, kami dibimbing dengan sabar, tanpa dihakimi. Sekarang, bisa membaca Al-Qur’an dan ikut program khatam ini membuat batin saya jauh lebih tenang. Ini modal berharga untuk saya saat bebas nanti,” ujar SF.
Dukungan penuh terhadap inisiatif ini juga datang dari Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Maluku, Ricky Dwi Biantoro. Ia mengapresiasi inovasi pembinaan yang dilakukan Lapas Wahai dan berharap program ini menjadi percontohan bagi Unit Pelaksana Teknis lainnya yang belum melakukannya.
“Pembinaan yang menyentuh hati seperti inilah yang sejatinya dibutuhkan. Program mengaji hingga khatam Al-Qur’an ini diharapkan mengubah cara pandang narapidana terhadap masa lalunya. Bekal ilmu agama dan mental yang kuat diharapkan menjadi modal berharga agar kelak mereka diterima kembali oleh keluarga dan masyarakat, serta membawa manfaat positif di lingkungan sosial mereka,” pungkas Ricky.


