Ibadah Ramadan di Lapas Wahai Semakin Khusyuk, Warga Binaan dan Petugas Gelar Yasinan Bersama
Wahai, Salawaku – Suasana religius semakin terasa di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas III Wahai pada penghujung Ramadan. Warga binaan bersama para pegawai menggelar kegiatan yasinan dan doa bersama yang berlangsung khusyuk di Masjid At-Taubah Lapas Wahai, Kamis (12/3).
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari rangkaian pembinaan kerohanian bagi warga binaan, khususnya dalam memanfaatkan momentum 10 malam terakhir Ramadan untuk meningkatkan kualitas ibadah dan memperkuat nilai-nilai spiritual.
Staf pembinaan Lapas Wahai, Rahmatsyah Latif Ode, menjelaskan bahwa pembacaan Surah Yasin dan doa bersama memiliki makna penting dalam mendekatkan diri kepada Allah SWT sekaligus mengajak warga binaan untuk lebih memahami pesan-pesan Al-Qur’an.
“Melalui kegiatan yasinan ini, warga binaan diajak untuk memperkuat keimanan, meningkatkan ketakwaan, serta menjadikan Ramadan sebagai momentum untuk memperbaiki diri,” ujarnya.
Menurut Rahmatsyah, berbagai kegiatan keagamaan yang digelar selama Ramadan diharapkan dapat mendorong warga binaan memperbanyak amal ibadah, seperti membaca Al-Qur’an, memperbanyak doa dan zikir, serta melakukan berbagai amalan kebaikan lainnya.
Sementara itu, salah seorang warga binaan berinisial IS mengaku merasakan suasana yang sangat khusyuk saat mengikuti kegiatan tersebut. Ia mengatakan Ramadan kali ini menjadi pengalaman pertamanya menjalani ibadah puasa di dalam Lapas.
“Meskipun berada di dalam Lapas, kami justru memiliki lebih banyak waktu untuk beribadah, seperti membaca Al-Qur’an, mengikuti yasinan, dan memperbaiki diri agar ke depan bisa menjadi pribadi yang lebih baik,” ungkapnya.
Kepala Lapas Wahai, Tersih Victor Noya, turut mengapresiasi kegiatan tersebut dan berharap warga binaan dapat memanfaatkan bulan suci Ramadan sebagai momen untuk memperdalam ketakwaan serta melakukan refleksi diri.
“Ramadan bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga, tetapi juga kesempatan untuk meningkatkan ketakwaan dan memperbaiki diri. Pembinaan spiritual menjadi bagian penting dalam proses pembinaan warga binaan selama menjalani masa pidana,” katanya.
Ia menambahkan, semangat Ramadan diharapkan mampu memperkuat kualitas spiritual warga binaan sehingga kelak dapat kembali ke masyarakat dengan membawa perubahan positif dalam kehidupan mereka.


