Saadiah Uluputty: Pekan Olahraga HUT RI Bangun Jiwa Sportif dan Perkuat Pembinaan Warga Binaan
Ambon, Salawaku – Semangat Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia mulai terasa di lingkungan pemasyarakatan Maluku.
Berbagai cabang olahraga yang digelar tidak sekadar menjadi ajang kompetisi, tetapi juga menjadi sarana memperkuat kebersamaan, disiplin, serta semangat pengabdian bagi seluruh insan pemasyarakatan.
Anggota Komisi XIII DPR RI, Saadiah Uluputty, mengapresiasi pelaksanaan Pekan Olahraga HUT RI yang dinilai mampu menanamkan rasa cinta tanah air sekaligus mempererat hubungan antarsesama pegawai.
Menurutnya, olahraga memiliki makna yang jauh lebih luas daripada sekadar meraih kemenangan. Kegiatan tersebut menjadi media untuk membangun kerja sama tim, meningkatkan kepatuhan terhadap aturan, menjunjung tinggi sportivitas, serta menjaga kesehatan fisik agar para petugas mampu memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat maupun warga binaan.
“Di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat. Ketika jiwa kuat, maka seluruh tugas akan dijalankan dengan penuh keikhlasan, semangat, dan kebahagiaan. Pada akhirnya masyarakat yang dilayani merasa bahagia dan petugas pun menjalankan tugas dengan sepenuh hati,” ujarnya saat menghadiri pembukaan Pekan Olahraga HUT RI di Ambon, Jumat.
Saadiah juga mengapresiasi keberhasilan jajaran pemasyarakatan Maluku yang berhasil meraih juara pertama pada lomba UMKM tingkat nasional melalui produk minyak kayu putih. Prestasi tersebut dinilai menjadi bukti bahwa potensi daerah Maluku mampu bersaing di tingkat nasional sekaligus membuka peluang peningkatan ekonomi masyarakat.
“Produk-produk unggulan Maluku harus terus diperkenalkan kepada masyarakat luas. Ini bukan hanya soal prestasi, tetapi juga membuka peluang bisnis dan meningkatkan daya tarik produk lokal,” katanya.
Lebih lanjut, Saadiah menekankan bahwa paradigma pemasyarakatan saat ini telah bergeser menuju pendekatan reintegrasi sosial sebagaimana semangat pembaruan dalam Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP). Lembaga pemasyarakatan, menurutnya, tidak lagi hanya menjadi tempat menjalani pidana, tetapi juga ruang pembinaan untuk memulihkan kepribadian dan membangun masa depan warga binaan.
Ia menjelaskan bahwa setiap warga binaan memiliki potensi untuk berubah menjadi pribadi yang lebih baik melalui program pembinaan yang terstruktur, mulai dari pembentukan karakter hingga pelatihan keterampilan sesuai peta jalan pembinaan yang telah disusun pemerintah.
“Tujuan akhirnya adalah ketika mereka kembali ke tengah masyarakat, mereka memiliki keterampilan, kepercayaan diri, dan mampu berintegrasi secara positif. Bahkan mereka bisa menjadi contoh bahwa seseorang yang pernah melakukan kesalahan tetap memiliki kesempatan untuk bangkit,” jelasnya.
Saadiah juga mengajak masyarakat menghapus stigma negatif terhadap mantan warga binaan. Menurutnya, mereka membutuhkan kesempatan kedua agar dapat kembali diterima dan berkontribusi di lingkungan sosial.
Ia menegaskan, keberhasilan pembinaan sangat bergantung pada peran petugas pemasyarakatan sebagai pendamping, pembimbing, sekaligus motivator yang mampu membangun kedisiplinan dan mengembalikan rasa percaya diri warga binaan.
“Setiap orang bisa melakukan kesalahan, tetapi setiap orang juga memiliki kesempatan untuk berubah. Itulah semangat yang harus terus ditanamkan di dalam lembaga pemasyarakatan,” tutupnya.

