Lapas Geser Gandeng KUA & Akademisi Seram Timur Perkuat Mental Spiritual Warga Binaan Lewat Kultum Jum’at

Geser, Salawaku – Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas III Geser terus berupaya meningkatkan kualitas pembinaan kepribadian dan spiritual bagi Warga Binaan. Komitmen strategis ini diwujudkan melalui penguatan sinergi lintas sektor yang melibatkan Kantor Urusan Agama (KUA) Seram Timur dan STAI Seram Timur, menciptakan ekosistem pembinaan inklusif dan kolaboratif yang diimplementasikan dalam kegiatan Kuliah Tujuh Menit (Kultum) selepas Sholat Jum’at berjamaah di Mushola At-Taqwa Lapas Geser, Jum’at (2/10).

Agenda spritual yang berlangsung khidmat ini merefleksikan esensi kolaborasi yang inklusif. Tidak hanya dihadiri oleh jajaran pejabat struktural, petugas, dan peserta magang Lapas Geser dan Warga Binaan, kegiatan ini juga melibatkan langsung Kepala KUA Seram Timur, Muhammad Syafi Rumalutur, dosen STAI Seram Timur, Ahmad Rumodar, hingga elemen masyarakat di sekitar lingkungan Lapas.

Kepala Lapas Geser, Nober Hasanda, menyampaikan apresiasi mendalam atas terbentuknya sinergi multisektoral ini. Menurutnya, pemulihan mental dan spiritual merupakan pilar fundamental dalam membentuk karakter warga binaan yang berakhlakul karimah sekaligus siap memikul tanggung jawab sosial di masa depan.

“Keberhasilan pembinaan tidak dapat bertumpu pada institusi penegak hukum semata. Institusi keagamaan menyediakan jangkar moral, akademisi memberikan kerangka pendekatan empiris, dan masyarakat bertindak sebagai ruang penerimaan. Sinergi positif inilah kunci utama akselerasi reintegrasi sosial yang sukses,” tegas Nober.

Dalam taushiyahnya, Kepala KUA Seram Timur, Muhammad Syafi Rumalutur, memberikan refleksi kerohanian yang menyejukkan. Beliau menekankan bahwa masa pembinaan di Lapas bukanlah sekadar bentuk hukuman pidana, melainkan sebuah momentum berharga yang dianugerahkan Allah SWT agar setiap individu dapat bermuhasabah dan memperbaiki diri.

“Allah SWT selalu membukakan pintu tobat bagi setiap hamba-Nya yang bersungguh-sungguh ingin memperbaiki diri. Kami juga mengimbau seluruh elemen masyarakat untuk mengikis stigma negatif dan aktif mendukung proses reintegrasi sosial ini agar para warga binaan dapat kembali berbaur secara harmonis saat bebas nanti,” ujar Muhammad Syafi Rumalutur.

Apresiasi senada juga datang dari institusi pendidikan. Ahmad Rumodar, dosen STAI Seram Timur yang turut hadir, menilai langkah kolaboratif Lapas Geser sangat inovatif karena berhasil mengintegrasikan pendekatan keagamaan dan sosial secara simultan. Pendekatan holistik ini dianggap efektif dalam membangun kesadaran spiritual sekaligus kesiapan mental warga binaan saat kembali ke lingkungan masyarakat.

“Kami dari kalangan akademisi sangat mengapresiasi inovasi yang dilakukan Lapas Geser. Menggabungkan pendekatan keagamaan dengan pendekatan sosial secara holistik adalah langkah cerdas. Ini bukan hanya soal membina spiritualitas di dalam Lapas, tetapi juga membangun kesiapan mental warga binaan agar proses reintegrasi mereka ke masyarakat berjalan mulus dan minim hambatan psikologis,” tutur Ahmad Rumodar.

Dampak nyata dari program pembinaan berbasis klaster sosial ini dirasakan langsung oleh salah satu warga binaan berinisial UR. Ia mengaku termotivasi untuk bertransformasi menjadi pribadi yang lebih baik.

“Pesan yang disampaikan memberikan harapan baru bagi kami. Kami semakin mantap untuk memperbaiki diri dan memohon ampunan Allah SWT agar kelak bisa menjadi manusia yang bermanfaat bagi keluarga dan masyarakat,” tutur UR.

Optimisme ini diperkuat oleh respon positif dari lingkungan sekitar. Bakri Rumuar, salah satu warga yang turut hadir mengikuti agenda spritual humanis tersebut, menyatakan kesiapan masyarakat dalam menyambut kembali para warga binaan.

“Kami melihat langsung perubahan positif dari saudara-saudara kita di dalam Lapas. Kegiatan keagamaan kolaboratif seperti ini menunjukkan bahwa Lapas Geser benar-benar menjadi tempat pembinaan yang humanis. Kami warga sekitar siap mendukung dan menerima mereka kembali ke tengah masyarakat tanpa sekat stigma,” tutup Bakri.

Melalui sinergi antara Lapas, KUA, akademisi, dan masyarakat ini, Lapas Geser optimis dapat terus menginisiasi program pembinaan yang berdampak nyata. Langkah kolaboratif ini diharapkan menjadi fondasi berkelanjutan untuk menuntun para warga binaan kembali ke tengah masyarakat sebagai pribadi baru yang berakhlak mulia, produktif, dan mandiri.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *