Boy Sangadji ‘Turun Tangan’, Musda Golkar Buru Panas Berakhir Aklamasi
Namlea, Maluku — Drama panjang Musyawarah Daerah (Musda) ke-6 Partai Golkar Kabupaten Buru akhirnya pecah di ujung malam. Setelah sempat memanas dan tertunda akibat tarik-menarik kepentingan internal, sosok Rohalim Boy Sangadji (RBS) tampil sebagai kunci yang mencairkan kebuntuan.
Musda lanjutan yang digelar Sabtu, 18 April 2026 dini hari itu dihadiri jajaran DPD I Partai Golkar Provinsi Maluku. Namun sorotan utama justru tertuju pada manuver dan peran strategis Boy Sangadji dalam meredam konflik yang sempat mengancam soliditas partai.
Sebelumnya, Musda pada 10 April 2026 mempertemukan dua kandidat kuat, yakni M. Rum Soplestuny dan Jaidun Sa’nun. Ketegangan tak terhindarkan hingga sidang diskors oleh pimpinan sidang Burhan Latuconsina karena deadlock.
Situasi tersebut kemudian dibawa ke level provinsi. Di sinilah Boy Sangadji, yang juga Ketua Depidar SOKSI Maluku dan Wakil Ketua Korbid Kebijakan Publik DPD I Golkar Maluku, memainkan peran penting. Ia menjadi figur sentral dalam proses mediasi yang mempertemukan kedua kubu.
Langkah cepat dan pendekatan persuasif Boy Sangadji membuahkan hasil. Dalam forum rekonsiliasi, Jaidun Sa’nun akhirnya memilih mundur dari pencalonan, membuka jalan bagi M. Rum Soplestuny untuk ditetapkan secara aklamasi sebagai Ketua DPD II Partai Golkar Kabupaten Buru periode 2025–2030.
Kader SOKSI Kabupaten Buru, Kiswan Facey, secara terbuka mengapresiasi kepemimpinan Boy Sangadji yang dinilai mampu meredam konflik dengan elegan.
“Beliau jadi penentu. Tanpa peran Boy Sangadji, situasi ini bisa berlarut-larut. Ini contoh kepemimpinan yang mengutamakan persatuan,” tegasnya.
Dengan berakhirnya drama Musda, Partai Golkar Kabupaten Buru kini dihadapkan pada tantangan baru: menjaga soliditas dan segera bergerak melakukan konsolidasi internal. Namun satu hal yang pasti, nama Boy Sangadji kini mencuat sebagai figur kunci di balik terciptanya islah di tubuh Golkar Buru.


