REMBUK STUNTING NEGERI KAILOLO 2026: Kolaborasi Lintas Sektor Wujudkan Generasi Sehat dan Cerdas
KAILOLO – Pemerintah Negeri Kailolo, Kecamatan Pulau Haruku, menggelar Rembuk Stunting pada Rabu, 23 September 2026. Kegiatan yang mengusung tema “Bersama Mewujudkan Desa Kailolo Bebas Stunting Melalui Kolaborasi Lintas Sektor” ini menjadi momentum penting dalam percepatan penurunan angka stunting di desa tersebut.
Acara dibuka secara resmi oleh Camat Pulau Haruku, Saifudin Latuconsina, yang dalam sambutannya menekankan bahwa stunting bukan hanya tanggung jawab tenaga kesehatan, melainkan seluruh elemen masyarakat.
“Stunting bukan hanya urusan tenaga kesehatan. Stunting adalah tanggung jawab seluruh masyarakat Negeri Kailolo. Mari bersama cegah stunting, wujudkan generasi sehat dan cerdas,” tegasnya saat membuka acara.
Dalam laporan situasi yang disampaikan narasumber, Ita Sait Latuconsina, SKM, terungkap data bahwa dari total 224 balita di Desa Kailolo, sebanyak 39 balita (17,4%) datang ke posyandu untuk penimbangan. Dari jumlah tersebut, tercatat 4 balita mengalami stunting, 2 balita gizi kurang, dan 1 balita gizi buruk. Sementara itu, terdapat 2 ibu hamil yang mengalami Kekurangan Energi Kronik (KEK).
“Prevalensi stunting di Desa Kailolo saat ini berada di angka 10,26 persen. Angka ini memang masih di bawah ambang batas nasional, namun kita tidak boleh lengah. Kehadiran balita ke posyandu yang baru 17,4 persen menjadi pekerjaan rumah bersama,” ujar Ita.
Ia juga memaparkan berbagai faktor penyebab stunting, mulai dari kurang gizi, anemia pada ibu hamil, praktik pengasuhan yang tidak baik, hingga sanitasi buruk. Dampaknya pun beragam, mulai dari pertumbuhan terhambat, perkembangan otak terganggu, hingga risiko penyakit meningkat dan produktivitas masa depan menurun.
Dalam sesi analisa masalah, teridentifikasi sejumlah kekuatan seperti adanya Puskesmas, Posyandu, dan kader kesehatan, namun masih dihadapkan pada kelemahan berupa rendahnya pengetahuan tentang ASI eksklusif, MP-ASI, dan sanitasi. Ancaman lain datang dari kondisi ekonomi, kebiasaan budaya, serta kurangnya kesadaran akan pentingnya layanan kesehatan.
Kasi Pemerintah Negeri Kailolo, Sopyan Marasabessy, menegaskan komitmen pemerintah desa dalam mendukung penuh program penurunan stunting.
“Kami akan mengalokasikan Dana Desa untuk mendukung Posyandu, kader, sanitasi, dan keluarga stunting. Ini adalah prioritas kami,” ujar Sopyan.
Rembuk stunting ini menghasilkan kesepakatan program prioritas, antara lain penguatan ANC rutin, pemberian Tablet Tambah Darah, promosi ASI eksklusif, MP-ASI bergizi, imunisasi lengkap, serta optimalisasi Posyandu. Intervensi sensitif dan spesifik akan dijalankan secara terintegrasi lintas sektor.
Ke depan, indikator keberhasilan akan diukur melalui peningkatan cakupan Posyandu, deteksi dini, pendampingan keluarga, perilaku hidup bersih dan sehat, kepatuhan pelayanan kesehatan, serta penurunan prevalensi stunting.
Acara ditutup dengan penandatanganan komitmen bersama seluruh pemangku kepentingan untuk mewujudkan Negeri Kailolo bebas stunting dan melahirkan generasi yang sehat, cerdas, serta produktif. (*)

