HUT ke-81 Maluku, Widya Pratiwi Ajak Anak Negeri Bersatu Ubah Potensi Jadi Kekuatan Pembangunan

Ambon, Salawaku— Delapan puluh satu tahun perjalanan Provinsi Maluku bukan sekadar angka dalam catatan sejarah. Di balik usia tersebut tersimpan perjalanan panjang, potensi besar, sekaligus pekerjaan rumah yang menuntut seluruh anak negeri untuk kembali menyatukan langkah.

Memaknai HUT ke-81 Provinsi Maluku tahun 2026, Anggota DPR RI Daerah Pemilihan (Dapil) Maluku, Widya Pratiwi, mengajak masyarakat menjadikan momentum hari jadi daerah sebagai refleksi sekaligus energi baru untuk membangun masa depan Maluku.

Menurut Widya, tema “Maluku Bersatu, Maju Membangun Negeri” bukan sekadar rangkaian kata untuk memeriahkan perayaan. Tema tersebut mengandung pesan kuat tentang pentingnya persatuan sebagai fondasi dan kemajuan sebagai tujuan bersama.

“Bersatu itu menjadi kekuatan kita. Maluku adalah daerah kepulauan dengan keberagaman masyarakat, sehingga semangat orang basudara harus terus kita jaga. Dari persatuan itulah kita bisa bergerak maju bersama,” ujar Widya.

Ia mengatakan, semangat persatuan menjadi semakin penting di tengah tantangan pembangunan yang dihadapi Maluku. Jarak antarpulau, keterbatasan konektivitas dan kesenjangan akses pelayanan dasar membutuhkan kebijakan yang tidak hanya tepat, tetapi juga dikerjakan melalui kolaborasi seluruh elemen.

Karena itu, HUT ke-81 harus menjadi momentum untuk berhenti sejenak melihat apa yang telah dicapai, sekaligus berani mengakui berbagai persoalan yang masih membutuhkan perhatian.

Mulai dari konektivitas antarpulau, pendidikan, kesehatan, penguatan ekonomi masyarakat hingga peningkatan kesejahteraan, seluruhnya harus menjadi agenda bersama.

“Jangan hanya melihat HUT sebagai perayaan. Kita harus melihat apa yang sudah kita kerjakan dan apa yang masih harus kita benahi. Yang paling penting, pembangunan itu manfaatnya harus dirasakan masyarakat,” katanya.

Potensi Besar, Jangan Hanya Jadi Cerita

Widya melihat Maluku memiliki modal pembangunan yang luar biasa. Laut yang luas, kekayaan perikanan, potensi pertanian, pariwisata, energi dan sumber daya alam menjadi kekuatan yang dapat menggerakkan perekonomian daerah.

Namun, potensi tersebut tidak akan berarti apabila hanya menjadi kebanggaan tanpa pengelolaan yang mampu memberikan nilai tambah bagi masyarakat.

“Potensi Maluku sangat besar. Tetapi bagaimana potensi itu kita kelola sehingga memberikan nilai tambah dan membuka peluang kesejahteraan bagi masyarakat lokal, itu yang harus kita pikirkan bersama,” ujarnya.

Menurut Widya, pembangunan harus memastikan masyarakat Maluku tidak sekadar menjadi penonton di daerah sendiri. Pengelolaan potensi daerah harus membuka ruang bagi masyarakat lokal untuk terlibat, memiliki keterampilan, mendapatkan kesempatan usaha dan menikmati manfaat ekonomi.

Untuk mewujudkannya, dibutuhkan keberpihakan kebijakan sekaligus sinergi antara pemerintah daerah dan pemerintah pusat.

Sebagai wakil masyarakat Maluku di DPR RI, Widya menegaskan komitmennya untuk terus membawa kepentingan daerah kepulauan ke tingkat nasional.

Karakter geografis Maluku, kata dia, harus menjadi pertimbangan dalam merancang kebijakan pembangunan nasional, terutama berkaitan dengan konektivitas, pemerataan pelayanan publik dan pengembangan ekonomi wilayah kepulauan.

Generasi Muda Jangan Jadi Penonton

Selain sumber daya alam, Widya menilai kekuatan terbesar Maluku sesungguhnya berada pada sumber daya manusianya.

Karena itu, pembangunan pendidikan, peningkatan keterampilan dan pemberian ruang bagi generasi muda harus menjadi bagian penting dari agenda pembangunan daerah.

“Generasi muda harus kita siapkan agar memiliki kompetensi dan keberanian untuk mengambil peran dalam pembangunan. Mereka jangan hanya menjadi penonton. Masa depan Maluku ada di tangan generasi muda hari ini,” tegasnya.

Ia berharap anak-anak muda Maluku dapat melihat daerah ini bukan hanya sebagai tempat tinggal, tetapi sebagai ruang untuk berkarya, menciptakan inovasi dan membangun masa depan.

Orang Basudara Jadi Kekuatan

Widya juga mengingatkan bahwa pembangunan tidak boleh menghilangkan jati diri masyarakat Maluku sebagai negeri yang menjunjung tinggi nilai persaudaraan.

Perbedaan suku, agama, budaya dan latar belakang, menurutnya, harus menjadi kekayaan yang memperkuat persatuan, bukan sumber perpecahan.

Semangat orang basudara harus terus dirawat dan diwariskan kepada generasi berikutnya sebagai modal sosial dalam membangun Maluku.

“Perbedaan jangan menjadi sekat. Justru dari keberagaman itu kita bisa saling melengkapi. Kita harus menjaga persaudaraan karena pembangunan akan jauh lebih kuat kalau kita berjalan bersama,” tuturnya.

Ia menilai pembangunan Maluku membutuhkan kerja kolektif. Pemerintah, DPRD, DPR RI, TNI-Polri, dunia usaha, perguruan tinggi, tokoh agama, tokoh adat, pemuda, perempuan dan masyarakat harus berada dalam satu gerak pembangunan.

Dari Slogan Menjadi Kerja Nyata

Memasuki usia ke-81, Widya berharap Maluku tidak hanya berbicara tentang apa yang dimiliki, tetapi mulai lebih kuat berbicara tentang apa yang bisa dilakukan.

Tema “Maluku Bersatu, Maju Membangun Negeri” harus diterjemahkan dalam kerja nyata yang menyentuh kehidupan masyarakat hingga ke pulau-pulau terluar.

“Maluku Bersatu, Maju Membangun Negeri bukan hanya slogan. Persatuan harus menjadi kekuatan, kemajuan harus menjadi tujuan, dan kesejahteraan masyarakat harus menjadi hasil akhirnya,” tandas Widya.

Ia mengajak seluruh anak negeri menjadikan HUT ke-81 Provinsi Maluku sebagai momentum memperkuat persaudaraan, menumbuhkan optimisme dan menyatukan energi untuk membangun daerah.

Sebab, menurut Widya, masa depan Maluku tidak hanya ditentukan oleh pemerintah, tetapi oleh keberanian seluruh anak negeri untuk bersatu, bekerja dan memastikan setiap potensi yang dimiliki benar-benar berubah menjadi kesejahteraan bagi masyarakat.

“Mari satukan hati, pikiran dan langkah. Dari Maluku yang bersatu, kita bangun negeri yang lebih maju dan sejahtera.”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *