Domino Olahraga Kecerdasan, ORADO Maluku Siap Cetus Atlet Prestasi

Ambon, Salawaku — Permainan domino atau gaple yang selama ini dikenal sebagai hiburan rakyat kini didorong naik kelas menjadi cabang olahraga kecerdasan yang dikelola secara profesional. Upaya tersebut ditandai dengan terbentuk dan dilantiknya Pengurus Provinsi (Pengprov) Federasi Olahraga Domino Nusantara (ORADO) Maluku.

Sekretaris Pengprov ORADO Maluku, Muhammad Fahrul Kaisuku, mengatakan domino sejatinya bukan sekadar permainan pengisi waktu, melainkan arena adu kecerdasan, strategi, dan pengendalian diri.

“Domino itu menuntut kemampuan membaca situasi, mengingat pola kartu, dan menyusun strategi dalam waktu cepat. Jadi menang dan kalah bukan soal keberuntungan, tapi kualitas berpikir pemain,” ujar Kaisuku, Sabtu (24/01) di Ambon.

Menurutnya, karakter tersebut menempatkan domino sejajar dengan cabang olahraga kecerdasan lain yang lebih dulu diakui. Karena itu, pembentukan ORADO menjadi momentum penting untuk memberi ruang pembinaan yang lebih terarah.

“Melalui ORADO, domino tidak lagi dikelola secara sporadis. Kita ingin ada sistem pembinaan, regulasi pertandingan, hingga jenjang prestasi yang jelas,” katanya.

Kaisuku menjelaskan, Pengprov ORADO Maluku resmi dideklarasikan dan dilantik pada 8 Januari, bersamaan dengan pembentukan ORADO di 37 provinsi lainnya di Indonesia. Dalam kepengurusan tersebut, Muhammad Azis Tunny dipercaya sebagai Ketua Pengprov ORADO Maluku, M. Fahrul Kaisuku sebagai Sekretaris, dan Claurin Sahusilawane sebagai Bendahara.

Ia menegaskan, kehadiran ORADO Maluku bukan sekadar pembentukan organisasi, tetapi juga membawa pesan perubahan cara pandang terhadap permainan rakyat yang selama ini kerap mendapat stigma negatif.

“Domino sering dipandang sebelah mata. Padahal di dalamnya ada nilai sportivitas, kecerdasan, dan etika bermain. Sekarang domino kita letakkan dalam kerangka prestasi,” tegasnya.

Lebih jauh, Kaisuku menilai pengelolaan domino secara profesional juga memiliki dampak sosial dan kultural bagi masyarakat Maluku. Selama ini domino telah menjadi ruang interaksi sosial yang kuat di tengah masyarakat.

“Ketika domino dikelola lewat turnamen resmi dan pembinaan atlet, ruang interaksi itu tidak hilang, justru diperluas dan dibuat lebih bermartabat,” ujarnya.

Meski demikian, ia mengakui tantangan ke depan masih cukup besar, mulai dari stigma lama terhadap permainan domino hingga pembangunan sistem pertandingan dan tata kelola organisasi yang sehat.

“Tantangan pasti ada, tapi dengan kepengurusan yang sudah terbentuk, kami optimistis Maluku punya fondasi awal untuk melahirkan atlet domino yang berprestasi,” kata Kaisuku.

Ia berharap ORADO Maluku ke depan tidak hanya menjaga warisan permainan rakyat, tetapi juga mampu menjadikannya sebagai cabang olahraga kecerdasan yang membanggakan daerah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *