El Niño Menguat, Kebakaran Hutan Meluas: Ancaman Krisis Berantai di Indonesia hingga Enam Bulan ke Depan
JAKARTA,Salawaku — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperingatkan bahwa fenomena El Niño yang sedang menguat diprediksi mencapai puncaknya pada Desember 2026 dengan anomali suhu permukaan laut di Pasifik Tengah-Eastern berpotensi menyentuh +3,7 derajat Celsius, melampaui rekor 2015/2016.
Kondisi ini diperkirakan bertahan hingga awal 2027 dan akan menimbulkan dampak berantai yang signifikan dalam enam bulan ke depan, terutama bagi Indonesia.
Pakar iklim dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menilai kombinasi El Niño kuat dan kebakaran hutan yang saat ini sudah berlangsung akan menciptakan krisis multidimensi.
Data Januari hingga Juni 2026 menunjukkan luas kebakaran telah mencapai 107.500 hektar, dua kali lipat periode yang sama di tahun 2023.
Puncak El Niño pada Oktober-Desember 2026 diprediksi memperburuk kekeringan, khususnya di lahan gambut yang mudah terbakar, sehingga kebakaran berpotensi mencapai intensitas tertinggi pada periode tersebut.
Dampak langsung yang akan dirasakan masyarakat adalah lonjakan suhu global dan pergeseran pola hujan. Indonesia, Australia, dan sebagian Asia Tenggara diproyeksikan mengalami curah hujan di bawah normal yang memperparah kekeringan, sementara wilayah Pasifik Timur dan Afrika Timur justru berisiko banjir.
Kabut asap dari Sumatera dan Kalimantan berpotensi menyebar ke Malaysia dan Singapura, memicu ketegangan diplomatik serta gangguan transportasi udara dan darat.
Di sektor kesehatan, kualitas udara yang buruk akibat partikulat PM2.5 dari kebakaran hutan menjadi ancaman utama.
Lonjakan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), asma, bronkitis, dan pneumonia diprediksi terjadi, terutama pada anak-anak dan lansia.
Studi di Portugal menunjukkan paparan PM2.5 dari kebakaran hutan berkontribusi pada kematian dini dan hilangnya tahun hidup produktif.
Dampak psikologis berupa trauma akibat evakuasi dan kehilangan tempat tinggal juga diprediksi meningkat di komunitas yang terdampak langsung.
Guncangan ekonomi dan pangan menjadi konsekuensi berikutnya. El Niño historis menyebabkan penurunan produksi beras global 1-1,5 persen dan gandum di bawah normal.
Di Indonesia, kekeringan akan mengancam musim tanam dan panen, sementara gangguan produksi dan distribusi memicu inflasi harga pangan strategis.
Di Kalimantan Barat, harga pangan dilaporkan sudah mulai naik dalam tiga bulan terakhir.
Kebakaran 2015 menyebabkan kerugian hingga Rp221 triliun atau 2 persen PDB, dan skala serupa dapat terulang jika kebakaran tidak terkendali.
Kabut asap juga berpotensi membatasi pasokan bahan bakar dan distribusi barang.
Risiko sosial dan politik turut mengintai. Dampak berantai dari krisis pangan, kesehatan, dan ekonomi berpotensi memicu ketidakstabilan sosial, terutama jika respons pemerintah dinilai lambat dan tidak efektif.
Periode Oktober 2026 hingga Maret 2027 disebut sebagai jendela dampak puncak. Tindakan mitigasi yang dilakukan sekarang, seperti penguatan sistem kesehatan, pengelolaan air, dan pencegahan kebakaran, akan sangat menentukan skala krisis pada 2027.
Tanpa intervensi, dampak El Niño dan kebakaran diprediksi terus berlanjut bahkan setelah fenomena iklim mereda.

