PK Bapas Ambon Bawa Isu Kesehatan Mental ke Forum Dunia, Soroti Risiko Burnout di WCPP 2026

Bali, Salawaku – Pembimbing Kemasyarakatan (PK) Balai Pemasyarakatan (Bapas) Ambon, Anugraeni Yasir, tampil di panggung internasional dalam ajang The 7th World Congress on Probation and Parole (WCPP) 2026 yang berlangsung di Nusa Dua, Bali, Rabu (15/4/2026).

Dalam forum bergengsi tersebut, ia mengangkat isu krusial terkait kesehatan mental PK yang rentan mengalami tekanan kerja tinggi.

Melalui materi bertajuk “Redefining the Worklife: A Journey Toward Flourish”, Anugraeni menekankan pentingnya dukungan psikologis bagi PK agar tetap produktif tanpa mengorbankan kesejahteraan mental. Ia menyoroti potensi burnout yang mengintai profesi tersebut akibat kompleksitas tugas, mulai dari pendampingan klien hingga beban administrasi.

Dalam pemaparannya, Anugraeni mengulas pendekatan Flourish Framework yang dikembangkan oleh Martin Seligman, dengan lima pilar utama: emosi positif, keterlibatan, hubungan, makna, dan pencapaian. Pendekatan ini kemudian dikontekstualisasikan dengan nilai-nilai lokal di Indonesia, termasuk kearifan masyarakat Maluku seperti kebersamaan, gotong royong, dan solidaritas sosial.

“Kesehatan mental PK tidak bisa dipandang sebelah mata. Dengan pendekatan ini, kami ingin memastikan PK tidak hanya profesional dalam bekerja, tetapi juga tetap sehat secara emosional,” ungkap Anugraeni.

Ia menambahkan, penguatan nilai lokal menjadi kunci agar konsep global tersebut lebih mudah diterapkan dan berkelanjutan di lingkungan kerja PK. Menurutnya, pendekatan berbasis budaya akan lebih relevan dengan realitas keseharian para petugas di lapangan.

Kepala Bapas Ambon, Ellen Margareth Risakotta, menyampaikan kebanggaannya atas keikutsertaan jajarannya dalam forum internasional tersebut. Ia menilai partisipasi ini menjadi bukti bahwa kompetensi PK dari daerah mampu bersaing di tingkat global.

“Ini pencapaian yang membanggakan. Kehadiran PK Bapas Ambon di forum dunia menunjukkan dedikasi dan kualitas SDM kita diakui secara internasional,” ujarnya.

Ellen berharap pengalaman tersebut dapat menjadi pemicu semangat bagi seluruh PK untuk terus meningkatkan kapasitas diri, sekaligus mengimplementasikan ilmu yang diperoleh dalam tugas sehari-hari.

Apresiasi juga disampaikan Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Maluku, Ricky Dwi Biantoro. Ia menilai kehadiran perwakilan Maluku sebagai pembicara dalam forum global merupakan kontribusi nyata daerah dalam pengembangan sistem pemasyarakatan dunia.

“Ini bukan hanya kebanggaan, tetapi juga peluang untuk menunjukkan bahwa praktik di daerah memiliki nilai strategis di tingkat internasional,” katanya.

Menurut Ricky, WCPP menjadi wadah penting untuk memperkuat kapasitas sumber daya manusia pemasyarakatan, sekaligus bertukar pengalaman dalam menghadapi berbagai tantangan, seperti kelebihan kapasitas hunian hingga penguatan sistem pemidanaan yang lebih humanis.

Sebagai forum yang digelar dua tahunan, WCPP mempertemukan pembuat kebijakan, praktisi, akademisi, hingga organisasi masyarakat sipil dari berbagai negara. Kongres ke-7 ini mengangkat tema “Getting Smart on Justice: Healing Hearts & Safer Societies” dengan fokus pada pengembangan keadilan restoratif, pemanfaatan teknologi seperti kecerdasan buatan, serta strategi reintegrasi sosial yang berkelanjutan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *