Lapas Wahai Tingkatkan Kualitas Pembinaan Warga Binaan

Wahai, Salawaku— Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas III Wahai terus meningkatkan kualitas pembinaan kepribadian Warga Binaan, salah satunya terkait kecerdasan intelektual melalui literasi buku bacaan. Melalui Perpustakaan “Beranda Mesra”, Lapas Wahai menciptakan oase literasi yang tidak hanya menjadi tempat membaca, tetapi juga ruang edukasi dan transformasi karakter dan pengayaan wawasan bagi para Warga Binaan selama masa pembinaan.

Kepala Lapas Wahai, Tersih Victor Noya, menegaskan literasi memiliki peran strategis dalam membentuk kepribadian Warga Binaan. Kegiatan membaca bukan hanya sekadar menambah ilmu pengetahuan, tetapi juga menjadi sarana membangun pola pikir yang lebih matang serta membentuk sikap positif dalam menjalani kehidupan.

“Melalui fasilitas perpustakaan, kami berupaya memastikan Warga Binaan tetap memiliki akses terhadap pendidikan dan pengetahuan. Literasi menjadi fondasi penting dalam menumbuhkan kesadaran diri, rasa tanggung jawab, dan kesiapan mereka untuk kembali berperan di tengah masyarakat,” ujarnya, Kamis (16/4).

Lebih lanjut, Tersih menegaskan literasi merupakan bagian integral dari pendidikan sepanjang hayat sekaligus bentuk pemenuhan hak Warga Binaan sebagaimana diatur dalam Pasal 9 Undang-Undang RI Nomor 22 Tahun 2022 tentang Pemasyarakatan yang menjamin hak Narapidana untuk memperoleh pendidikan dan bahan bacaan. “Manfaat literasi tidak hanya pada peningkatan pengetahuan dan keterampilan, tetapi juga pembinaan karakter serta kesiapan reintegrasi sosial. Kami berkomitmen menciptakan lingkungan yang edukatif dan produktif bagi Warga Binaan,” tegasnya.

Senada, Kepala Subseksi Pembinaan, Merpaty S. Mouw, menyampaikan perpustakaan tidak hanya berfungsi sebagai tempat peminjaman buku, tetapi juga ruang diskusi dan pengembangan diri yang dirancang untuk mendukung pembinaan secara berkelanjutan. “Kami ingin menanamkan kebiasaan membaca sebagai rutinitas positif. Perpustakaan ini menjadi oase literasi dan ruang belajar yang nyaman dan kondusif bagi Warga Binaan untuk terus mengembangkan diri,” jelasnya.

Meningkatnya minat baca terlihat dari antusiasme Warga Binaan dalam mengunjungi dan memanfaatkan perpustakaan. Salah satu Warga Binaan, AD, mengungkapkan kegiatan membaca kini menjadi bagian penting dalam kesehariannya selama menjalani masa pembinaan. “Saya sekarang lebih sering ke perpustakaan. Buku-buku disini cukup lengkap. Jadi, bisa menambah ilmu sekaligus menjadi hiburan untuk mengisi pikiran agar tetap positif,” ungkapnya.

Penguatan budaya literasi di Lapas Wahai mendapat apresiasi dari Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Maluku, Ricky Dwi Biantoro. Kegiatan tersebut sejalan dengan tujuan Sistem Pemasyarakatan dalam membentuk Warga Binaan yang mandiri, berpengetahuan, dan berkarakter kuat.

“Literasi merupakan kunci pembinaan intelektual. Kegiatan yang dilaksanakan Lapas Wahai merupakan praktik baik yang perlu terus dipertahankan dan dikembangkan karena memberikan dampak positif jangka panjang dalam proses pembinaan,” terang Ricky.

Lapas Wahai berkomitmen agar Perpustakaan “Beranda Mesra” selalu menyediakan berbagai koleksi buku, mulai dari pengetahuan umum, keagamaan, keterampilan praktis, hingga bacaan motivasi. Fasilitas ini dimanfaatkan secara aktif oleh Warga Binaan sebagai sarana mengisi waktu dengan kegiatan produkti sekaligus menumbuhkan kemampuan berpikir kritis dan memperluas wawasan sebagai bekal dalam persiapan proses reintegrasi sosial.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *