“SELFCARE” WUJUD KALESANG HAK REPRODUKSI REMAJA PEREMPUAN MALUKU MENGHADAPI SITUASI PERUBAHAN IKLIM
Ns. Christy N M Hitijahubessy, M.Kep.,Sp.Kep.Mat
Dosen Poltekkes Kemenkes Maluku
Remaja merupakan salah satu kelompok yang sangat rentan sebagai dampak perubahan iklim karena kelompok ini membutuhkan adaptasi terhadap perubahan perkembangan baik secara biologis, emosional, dan sosiokultural yang terjadi akibat peralihan dari masa kanak-kanak menuju dewasa awal. Perubahan iklim sangat memengaruhi kesehatan dan kesejahteraan remaja baik kesehatan fisik (misalnya, perkembangan otak, kondisi paru-paru, dan nutrisi), kesehatan mental, pendidikan maupun kesehatan seksual dan reproduksi. Selain memiliki dampak langsung akibat cuaca ekstrem, perubahan iklim memiliki konsekuensi tidak langsung dan jangka panjang terhadap fungsi psikologis remaja, peluang pendidikan, serta rasa aman tentang masa depan mereka. Perubahan iklim yang dimanifestasikan dalam berbagai bentuk, seperti peningkatan suhu ekstrem, bencana alam (banjir, kekeringan, badai), dan perubahan pola penyakit. Dampak-dampak ini dapat secara langsung maupun tidak langsung memengaruhi kesehatan reproduksi remaja perempuan. Remaja perempuan sebagai kelompok rawan memposisikan mereka pada risiko peningkatan kemiskinan, kerawanan pangan, putus sekolah, seks transaksional, kekerasan seksual, infeksi menular seksual (IMS), pernikahan dini (yang mengarah pada aktivitas seksual tanpa persetujuan atau tidak diinginkan tetapi diharapkan), atau melahirkan anak di usia dini karena kurangnya akses
Tantangan ini membutuhkan pemahaman remaja tentang self-care reproduksi menjadi krusial khususnya remaja perempuan. Self-care dalam konteks ini berarti remaja perempuan mampu mengambil langkah-langkah proaktif untuk melindungi dan memelihara kesehatan diri sendiri khususnya terkait hak-hak seksual dan reproduksi. Selfcare dapat mencakup hal-hal beriku:
Pengetahuan dan Literasi Kesehatan Reproduksi: Memahami anatomi reproduksi, siklus menstruasi yang normal, tanda-tanda infeksi, serta dampak hubungan seks tidak aman serta konplikasi yang akan terjadi. Pengetahuan ini memberdayakan remaja untuk membuat keputusan yang tepat tentang tubuh mereka.
Praktik Kebersihan yang Baik: Menjaga kebersihan organ intim dengan benar untuk mencegah infeksi, terutama di tengah keterbatasan akses air bersih.
Nutrisi yang Cukup: Mengonsumsi makanan bergizi untuk mendukung kesehatan hormonal dan energi serta tinggi zat besi dan asam folat untuk mengsupport fungsi reproduksi yang optimal.
Manajemen Stres: Mengembangkan strategi untuk mengelola stres dan kecemasan, seperti meditasi, yoga, hobi, atau mencari dukungan dari teman, keluarga, atau profesional kesehatan mental.
Akses dan Pemanfaatan Layanan Kesehatan: Berani mencari informasi dan layanan dari tenaga kesehatan profesional terkait masalah menstruasi, infeksi, atau kebutuhan kontrasepsi.
Membuat Pilihan Hidup Sehat: Menghindari perilaku berisiko seperti merokok, konsumsi alkohol berlebihan, dan penggunaan narkoba yang dapat memengaruhi kesehatan reproduksi.
Membangun Jaringan Dukungan: Memiliki orang-orang terpercaya yang dapat diajak bicara tentang masalah kesehatan reproduksi dan perubahan iklim.
Advokasi dan Partisipasi: Terlibat dalam diskusi dan advokasi tentang perubahan iklim dan dampaknya terhadap kesehatan, termasuk kesehatan reproduksi. Remaja memiliki suara yang penting dalam membentuk kebijakan yang akan memengaruhi masa depan mereka.
Sebagai bentuk implikasi selfcare reproduksi remaja sebagai dampak perubahan iklim, perlu adanya strategi untuk memitigasi remaja menghadapi dampak tersebut antara lain;
1) Edukasi yang Komprehensif, penyelarasan program pendidikan dengan memasukkan informasi tentang perubahan iklim dan dampaknya pada kesehatan reproduksi, serta strategi adaptasi dan mitigasi yang tepat, mempersiapkan remaja sejak dini untuk pengambilan keputusan yang tepat terkait hak-hak seksual dan reproduksinya sebagai dampak perubahan iklim;
2) Akses Layanan Kesehatan yang Responsif Iklim, perlu adanya pengembangan fasilitas kesehatan yang tangguh terhadap bencana, penyediaan layanan kesehatan reproduksi yang menyentuh kebutuhan remaja perempuan, dan memastikan ketersediaan pasokan obat-obatan esensial;
3)Pemberdayaan Ekonomi dan Sosial, perlu penekanan kerentanan ekonomi remaja perempuan sehingga dapat mengurangi risiko pernikahan anak dan eksploitasi;
4) Pengembangan Sistem Peringatan Dini, penting untuk bencana alam yang dapat memengaruhi akses layanan Kesehatan; serta
5) Kebijakan yang Inklusif Gender, penting untuk memastikan bahwa kebijakan adaptasi perubahan iklim mempertimbangkan kebutuhan dan kerentanan spesifik remaja perempuan.
Perubahan iklim merupakan ancaman nyata terhadap kesehatan reproduksi remaja perempuan. Namun, dengan meningkatkan self-care reproduksi yang didukung dengan edukasi yang komprehensif, akses terhadap layanan kesehatan yang responsif iklim, dan kebijakan yang inklusif. Kenyataannya masih ditemukan banyak faktor yang menghambat pemenuhan kebutuhan seksual reproduksi remaja perempuan yang juga memperburuk kerentanan terhadap perubahan iklim dan sebaliknya. Selain gender, kerentanan seseorang terhadap perubahan iklim seperti orientasi seksual, ras, penduduk asli, etnis, usia, status sosial ekonomi, dan disabilitas atau mobilitas. Beberapa studi menyoroti bagaimana identitas yang beragam bersatu untuk memengaruhi kerentanan dan kemampuan adaptasi terhadap dampak perubahan iklim. Untuk itu diperlukan informasi-informasi yang lebih jelas tentang penerapan perspektif interseksional terhadap perubahan iklim dan upaya memperkuat selfcare remaja dalam memenuhi hak-hak seksual dan kesehatan reproduksi remajadengan memperhatikan kesetaraan gender dan menciptakan masyarakat yang berkelanjutan. (**)


