Wagub : KKM Momentum Memperkokh Identitas Kemalukuan

Wagub : KKM Momentum Memperkokh Identitas Kemalukuan

Wagub : KKM Momentum Memperkokh Identitas Kemalukuan

Wagub : KKM Momentum Memperkokh Identitas Kemalukuan – Kongres Kebudayaan Maluku (KKM) II tahun 2016 di Buru memilki ekspektasi yang tinggi sehingga menjadi momentum untuk memperkokoh dan memberdayakan  identitas ke-Malukuan pada tataran praktis dinamika kehidupan kemasyarakatan di Maluku.

Hal tersebut di sampaikan oleh Wakil Gubernur Maluku Zeth Sahuburua dalam sambutannya yang di bacakan oleh Plt Bupati Buru Juhana Soedrajat saat menutup kegiatan Kongres Kebudayaan Maluku II tahun 2016 di Aula Kantor Bupati, Namlea Rabu (9/11).

Soedrajat mengatakan, dalam merespon tantangan global yang multidimensional , teristimewa dalam perspektif Bupolo yang mengedepankan semangat kasih sayang dan persaudaraan yang kokoh dalam membangun dan memajukan negeri.

“Harapan kita kedepan agar nilai-nilai identitas ke-Malukuan kita yang proposional akan mampu mengangkat harkat dan martabat masyarakat Maluku di mata dunia, terutama pada aspek kekuatan sosial kultural masyarakat dan aspek kekuatan ekonomi yang menyejahterakan, serta memberdayakan manusia yang lebih berkualitas,” ujarnya

Dikatakan, dalam konteks kebudayaan orang Maluku di bangun atas dasar kesadaran bersama untuk dapat hidup bersama, bekerjasama dan mencapai tujuan yang sama, yang dapat ditemukan dalam konsep hidup orang basudara Mono-dualistis, diartikan sebagai ketunggalan di dalam kemajemukan yang saling melengkapi dan saling membutuhkan, yang melahirkan sebuah pola relasi diantara unsur-unsur yang berbeda tanpa mendominasi satu dengan dengan lainnya.

“Saya yakin, bahwa nilai-nilai kultural ini menjadi kekuatan di balik kemajemukan berbagai unsur budaya di Maluku,” ujarnya.

Olehnya itu Wakil Gubernur mengatakan, forum Kongres Kebudayaan Maluku II sangat penting untuk disadarkan pada filosofi Mono-Dualistis, sehingga pada akhirnya kita akan menemukan bahwa kontruksi kebudayaan Maluku adalah roh dan jiwa bersama,” tuturnya.

Dijelaskan, dalam perkembangan masyarakat yang hidup pada zaman globalisasi dan modernisasi saat ini, sebagai konsekuensi dari kemajuan teknologi komunikasi dan informasi masyarakat sehingga cenderung meninggalkan sesuatu yang telah menjadi pegangan luhur dalam budayannya.

“Sudah banyak kasus pencurian budaya kita sebagai akibat ketidakpekaan dan ketikseriuasan kita untuk mengurusnya,” katanya.

Olehnya itu, harus menjadi pelajaran berharga karena kebudayaan bangsa adalah harta yang bernilai tinggi di mata dunia dengan melestarikan budaya lokal sama halnya dengan kita menjaga bangsa dari pengaruh asing.

“Sebagai anak negeri Maluku, kita harus menegaskan identitas ka-Malukuan kita dengan melakukan revitalisasi dan transformasi nilai-nilai kearifan lokal sebagai modal sosial kultural dalam menghadapi tantangan modernitas dan globalisasi,
“tutur Juhana.

Olehnya itu dikatakan, berbagai keputusan dan rekomendasi yang lahir dalam kongres ini agar menjadi upaya untuk memperkokoh identitas ke-Malukuan kita dengan mempertegas dan diwujudnyatakan guna mendukung berbagai perjuangan kolektif Pemerintahan Daerah dan masyarakat Maluku untuk membangun Negeri Raja-Raja ini.

“Bukan hanya dalam membangun Negeri Raja-Raja ini, tapi kita semua harus dapat menjadikan Maluku sebagai lumbung ikan nasional, maupun mempersiapkan SDM di Maluku menghadapi era Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) dan menjadikan Maluku sebagai Poros Maritim Indonesia,” tutur Juhana.

Sementara itu Ketua LKDM Maluku Tony Pariela dalam arahannya mengatakan, kegiatan Kongres Kebudayaan Maluku menjadi agenda tahunan yang menjadi tardisi dari Lembaga Kebudayaan Maluku untuk terus mensosialisasi identitas ke-Malukuan.

“Identitas ke-Maluku ini terus di sosialisasi, karena di Maluku selama ini tidak ada kebudayaan Maluku yang ada hanyalah kebudayaan-kebudayaan di Maluku,” tuturnya.

Dikatakan bahwa, begitu banyak identitas asal suku-suku agama ras yang tergolong di Maluku sehingga LKDM berkepetingan sesuai dengan mandat Pemerintah Provinsi Maluku untuk mencari satu identitas untuk mempersatukan seluruh suku-suku, agama, ras yang di Maluku.

“Ini penting untuk menjamin masa depan untuk daerah ini kedepan,” ujarnya.

Dikatakan, dengan adanya arus perkembangan zaman , kemajuan teknolgi, kapitalisme,  yang terjadi di masa sekarang, bisa berpengaruh terhadap nilai-nilai adat istiadat perlahan-lahan akan luntur.

“Kita dari LKDM sangat tidak menginginkan hal ini terjadi, silahkan masyarakat di berdayakan, dikembangkan termasuk adat-istiadatnya, tetapi pada saat yang sama kita harus melindungi identitas dari masyarakat setempat, kalau dilakukan secara bertahap bisa meningkatkan kualitas hidup mereka, dan pada saat yang sama juga kita tidak kehilangan identitas,” katanya.

Olehnya itu dikatakan, lewat KKM II agar kedepan bisa melakukan perjalanan ke daerah-daerah Maluku untuk mendiskusikan identitas ke-Malukuan.

“Ada beberapa Kabupaten/Kota yang belum disinggahi, tapi segera dalam bulan Desember kita akan singgahi Kabupaten SBB, karena 2 minggu yang lalu kita baru selesaikan diskusi di SBT, dan beberapa Kabupaten yang lain akan kita tuntaskan,” ujarnya.

Ditambahkan, sasaran dari kegiatan KKM II ini untuk menemukan format yang tepat untuk mempersatuakn semua perbedaan-perbedaan budaya masyarakat di Maluku.

“Dengan cara itu akan ada stabilitas kehidupan bersama sebagai prasyarat untuk pembangunan, tidak mungkin masyarakat tidak stabil kalau ada kekacauan sehingga pembangunan bisa di lakukan,” tuturnya.

Turut hadir dalam penutupan kegiatan Kongres Kebudayaan Maluku II adalah Sekda Buru Ahmad Assagaf, Mus Huliselan seorang peneliti pulau Buru, Profesor Pattinama dan Profesor Watloly, dan sejumlah pimpinan SKPD Kabupaten Buru.

Share this post

Post Comment