Aru Tuan Rumah KKM III

Aru Tuan Rumah KKM III

Aru Tuan Rumah KKM III

Aru Tuan Rumah KKM III – Berdasarkan masukan dan pertimbangkan dari peserta pada Kongres Kebudayaan Maluku (KKM) II, forum KKM II telah menyatakan dan menetapkan Kabupaten Kepulauan Aru sebagai tuan rumah penyelenggaraan Kongres Kebudayaan Maluku III pada tahun 2018.

Hal ini di katakan oleh Ketua LKDM Maluku Tony Pariela pada saat membaca butir-butir rekomendasi yang di dalamnya terdapat 4 aspek rekomendasi Kongres Kebudayaan Maluku II Buru di Aula Kantor Bupati, Namlea Rabu (9/11).

Pariela mengatakan, KKM II telah memutuskan sejumlah rekomendasi yang di dalamnya terdapat empat aspek, salah butir dari ke empat butir tersebut adalah dengan menetapan Kabupaten Kepulauan Aru sebagai tuan rumah KKM III, dikarenakan Kepulauan Aru merupakan salah satu daerah yang cukup di minati oleh warga negara asing.

“Persiapan KKM III harus di siapkan satu tahun sebelum hari H, jadi jauh-jauh hari harus sudah di rencanakan dan kerja,” ujar Pariela.

Dikatakan, Kongres Kebudayaan merupakan suatu momentum dan strategis guna untuk mengkonsilidasikan keanekaragaman budaya yang ada di Maluku guna menjadikan Maluku ke arah yang lebih baik.

“Kebudayaan merupakan identitas suatu masyarakat atau peradaban, begitu juga di Maluku, kebudayaan Maluku merupakan implmentasi jati diri masyarakat Maluku yang harus di lestarikan,” tuturnya

Dikatakan, ada 4 aspek dengan rincian-rincian tiap-tiap dimensinya masing-masing, itu sudah di rumuskan dalam butir-butir rekomendasi yang telah di tandatangani oleh ketua atau pimpinan kongres yang kemudian akan di sampaikan kepada pimpinan Kabupaten/Kota untuk di perhatikan,” ujarnya

Dikatakan, aspek yang pertama adalah aspek pendidikan, dengan butir-butirnya yaitu, dalam rangka merawat dan mengembangkan kebudayaan Maluku dalam mewarnai karakter orang maluku dengan cara merancang dan memperhatiakan kebudayaan Maluku sebagai muatan lokal di setiap sekolah, diperlukan adanya penelitian dan pengembangan bahasa-bahasa lokal di Maluku agar di wariskan untuk generasi Maluku di masa mendatang, permainan-permainan rakyat Maluku yang di lupakan agar kembali dapat di jalankan dan dikembangkan.

“Aspek yang kedua yaitu ekonomi, dengan butir-butirnya yaitu, penanganan kemiskinan di Maluku harus mendapat perhatian serius dari pemerintah provinsi maupun daerah salah satunya dengan memanfaatkan sumber daya lokal, SDM, SDA, pemanfaatan Blok Masela oleh pemeritah untuk kepentingan masyarakat lokal,” tuturnya.

Lanjut, aspek yang ketiga yaitu aspek sosial budaya dengan butir-butirnya yaitu, segala aktifitas kebudayaan Maluku seperti rana menyapa dunia bisa berjalan tanpa di hambatan, situs-situs kebudayaan Maluku perlu dilindungi, perlu ada anggaran yang cukup untuk keperluan penelitian kebudayaan di Maluku, menetapkan danau Rana sebagai cagar budaya, Kongres Kebudayaan Maluku agar di masukan di kalender kebudayaan Maluku dan Nasional.

“Aspek yang ke empat yaitu, aspek pembangunan dan pemberdayaan desa adat, dengan butir-butirnya yaitu, diperlukan kajian yang mendalam untuk memperkuat Negeri-Negeri adat, di butuhkan advokasi oleh lembaga-lembaga terkait untuk memperkuat kapasitas pemerintah negeri, pembentukan lembaga-lembaga kebudayan maluku di tingkat Kabupaten/Kota, deklarasi kebudayaan Maluku tahun 2014 yang jatuh pada tanggal 6 November, agar terus di sosialisasikan, penetapan Kabupaten Kepulauan Aru sebagai tuan rumah penyelenggaraan Kongres Kebudayaan Maluku III pada tahun 2018,” ujarnya.

Share this post

Post Comment