Survei SDI : Petahana Masih Unggul di Pilkada Maluku 2018

Survei SDI : Petahana Masih Unggul di Pilkada Maluku 2018

Hasil survei Lembaga Sinergi Data Indonesia (SDI) menyebutkan, petahana Said Assagaff masih unggul pada Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Maluku 2018. Petahana cukup kuat dibandingan dua calon penantangnya, yaitu Murad Ismail dan Herman Koedoeboen.

“Dari data yang kami peroleh, petahana masih bersinar. Kami lakukan survei terhadap tiga bakal calon (balon), yaitu Said Assagaff, Murad Ismail, dan Herman Koedoeboen,” ungkap Direktur SDI Barca Pattimahu kepada wartawan di Ambon, Minggu (24/12/2017).

Dia menyebutkan, dari temuan elektabilitas ketiga balon Gubernur Maluku ini, Assagaff menembus angka 50%. Sedangkan Koedoeboen di angka 20.50% dan Murad di posisi terakhir pada angka 10.83%.

Dalam survei, jika Pilkada Maluku dilakukan pada hari ini, maka Said Assagaf yang berpasangan dengan Anderias Rentanubun akan unggul signifikan dengan memperoleh 47,50%. Sedangkan Herman Koedoeboen – Abdullah Vanath 26,50%, dan Murad Ismail – Barnabas Orno 10.33%.



Jika pilkada berlangsung head to head antara pasangan Said Assagaff–Anderias Rentanubun dan Herman Koedeoboen-Abdullah Vanath, akan terjadi selisih di atas 10% lebih yang dimenangkan oleh pasangan Assagaff-Rentanubun.

Bila terjadi head to head dengan Murad Ismail, maka akan terjadi selisih yang sangat berbeda jauh. Assagaff–Rentanubun unggul dengan angka 59,33% dan Murad–Orno memperoleh 15,83%.

“Selisihnya berbeda jauh. Hampir seluruh segmen pemilih masih menginginkan petahana atau incumbent kembali memimpin Maluku. Dari sisi popularitas Assagaff di atas 90% sementara balon lain dibawah angka 60%. Itu artinya, mayoritas pemilih puas dengan kinerja incumbent,” ungkap Barca.

Survei SDI : Petahana Masih Unggul di Pilkada Maluku 2018,  – Barca juga mengatakan, beberapa isu politik yang dimainkan, seperti isu Maluku punya gubernur baru dan kemiskinan, tidak berdampak atau berefek electoral menurunkan suara petahanan. Meski demikian, dia mengaku, petahana bisa dikalahkan jika terjadi blunder, adanya isu baru dan petahana lemah dari sisi strategi kampanye.

“Bisa saja terjadi demikian. Jika blunder fatal seperti yang pernah dilakukan Ahok, mantan Gubernur DKI,” ujarnya.
Survei dilakukan sejak 13–20 Desember 2017 dengan metode tatap muka terhadap 600 responden di seluruh kabupaten/kota. Responden dipilih menggunakan multistage sampling dengan margin of error 4,08%.

Sebelumnya, Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Network pernah merilis datanya pada 18 November 2017. Hasil survei menyebutkan mayoritas masyarakat Maluku menginginkan adanya Gubernur Baru dengan angka cukup signifikan, yakni 52,4%.

Share this post

Post Comment